Berandasehat.id – Sindroma mata kering bisa menyebabkan mata perih dan terbakar, peradangan, penglihatan kabur dan sensitivitas cahaya. Untuk kasus ekstrem dapat mengakibatkan kerusakan pada permukaan mata jika tidak ditangani. Mata kering, suatu kondisi umum di mana air mata yang dihasilkan oleh mata tidak dapat menjaga agar mata tetap terlumasi dengan baik, menimpa sekitar 1 dari 20 orang di Amerika Serikat saja.
Perawatan yang paling umum untuk mengatasi mata kering melibatkan penerapan tetes mata, gel atau salep. Perawatan baru yang tidak konvensional ini melibatkan bakteri di saluran usus. Adalah sebuah studi oleh kelompok riset di Baylor College of Medicine menyebut bahwa pemberian oral galur bakteri probiotik yang tersedia secara komersial ditemukan untuk memperbaiki penyakit mata kering pada model hewan.
Presenter penulis Laura Schaefer, Ph.D., dari Baylor College of Medicine di Houston, Texas, mengatakan, bakteri baik yang hidup di saluran pencernaan manusia telah dikaitkan dengan kesehatan dan perlindungan terhadap penyakit di banyak bagian tubuh, termasuk usus, otak, dan paru. “Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mikrobioma usus juga berpengaruh pada mata,” ujarnya.
Studi sebelumnya oleh kelompok penelitian ini menunjukkan bahwa tikus yang diberi bakteri usus dari pasien sindrom Sjögren pada manusia dengan mata kering yang parah mengembangkan penyakit mata yang lebih buruk dalam kondisi kering daripada tikus yang diberi bakteri usus dari pasien manusia yang sehat. Ini menunjukkan bahwa bakteri usus dari orang sehat membantu melindungi permukaan mata dalam kondisi kering.

Salah satu jalan pengobatan yang mungkin untuk mata kering akan melibatkan bakteri probiotik yang memiliki efek perlindungan serupa. Tim riset menyelidiki hal ini dengan menggunakan strain bakteri probiotik yang diberikan secara oral, Limosilactobacillus reuteri DSM17938, dalam model tikus (yang dikondisikan) mata kering.
DSM17938 adalah strain bakteri probiotik yang berasal dari manusia yang tersedia secara komersial yang telah menunjukkan efek perlindungan pada usus dan sistem kekebalan pada manusia dan tikus, tetapi belum diuji dalam konteks kesehatan mata.
Tikus pertama kali diobati dengan antibiotik, yang membunuh banyak bakteri baik yang hidup di usus. Mereka kemudian diekspos pada kondisi yang sangat kering dan diberi dosis harian bakteri probiotik atau larutan garam sebagai kontrol. Setelah 5 hari, mata mereka diperiksa.
Hasilnya menunjukkan, tikus yang diberi makan bakteri probiotik memiliki permukaan kornea yang lebih sehat dan utuh. Selain itu, tikus ini memiliki lebih banyak sel goblet di jaringan matanya, yang merupakan sel khusus yang memproduksi musin, komponen penting dalam air mata. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa probiotik oral yang tepat dapat membantu mengobati dan mengelola gejala mata kering.
Temuan ini dipresentasikan di ASM Microbe 2023, pertemuan tahunan American Society for Microbiology. (BS)