Berandasehat.id – Orang yang bekerja di malam hari atau begadang, memiliki risiko lebih besar menemui ajal lebih awal. Menurut sebuah studi Mei 2023 yang diterbitkan di Chronobiology International, mereka yang kerap begadang di malam hari besar kemungkinan meninggal lebih awal daripada mereka yang bekerja di siang hari. Alasannya, mereka yang bangun larut malam lebih berisiko mengembangkan kebiasaan tidak sehat, kata peneliti Institut Kesehatan Kerja Finlandia Christer Hublin.
“Peningkatan risiko kematian terkait dengan menjadi orang ‘malam’ yang jelas tampaknya terutama disebabkan oleh konsumsi tembakau dan alkohol yang lebih besar,” kata Hublin dalam sebuah pernyataan dikutip CNN. “Ini dibandingkan dengan mereka yang jelas-jelas ‘orang pagi’.”
Studi Hublin mengikuti sekitar 24.000 anak kembar dari tahun 1981 hingga 2018 untuk mencatat kemungkinan penyebab perilaku terkait kesehatan. Kira-kira 10% dari anak kembar yang terlibat dalam penelitian mengatakan bahwa mereka benar-benar orang malam, sementara 33% mengatakan mereka lebih suka begadang.

Studi tersebut memperhitungkan tingkat pendidikan masing-masing kembar, konsumsi alkohol, penggunaan produk asap, massa tubuh dan durasi tidur untuk membandingkan dan membedakan gaya hidup bak burung hantu malam dengan orang pagi. Menurut hasil, orang yang masuk kategori ‘burung hantu malam’ memiliki risiko kematian dini 9% lebih tinggi daripada orang pagi.
“Kami telah mengetahui sejak lama bahwa mereka yang memiliki preferensi tipe malam lebih cenderung menjadi peminum yang lebih berat, memiliki gangguan penggunaan alkohol dan juga lebih cenderung menggunakan zat lain termasuk tembakau,” Dr. Bhanu Prakash Kolla, spesialis tidur.
Sementara penggunaan alkohol dan merokok mungkin berperan dalam kenaikan risiko kematian 9%, namun faktor lain kemungkinan juga berperan. “Kemungkinan penyebab lain yang terlintas dalam pikiran orang yang begadang di malam hari kemungkinan besar perlu bangun lebih awal untuk bekerja/sekolah sehingga akhirnya kurang tidur dan kurang tidur dapat meningkatkan risiko,” tandas Dr. Kolla. (BS)