Berandasehat.id – Kanker payudara ada beragam jenis, salah satunya adalah HER2 positif yang cenderung lebih agresif daripada jenis kanker payudara lainnya. Kanker payudara HER2 positif merupakan jenis kanker payudara yang dites positif untuk protein yang disebut human epidermal growth factor receptor 2 (HER2).
Data menyebut, satu dari lima pasien kanker payudara diperkirakan merupakan pasien kanker payudara HER2 positif. HER2 adalah protein di permukaan sel yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan penyebaran sel. Apabila jumlah protein HER2 terlalu banyak, pertumbuhan sel bisa cepat dan tidak terkendali.
Disampaikan spesialis onkologi DR. Dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM, FINASIM, prevalensi kanker payudara HER2 positif di Indonesia mencapai 30 persen. “Pada kanker HER2 positif, sel kanker dapat tumbuh lebih agresif dan menyebar lebih cepat,” ujarnya dalam temu media bertajuk ‘Kenali Kanker Payudara Jenis HER2 Positif dan Inovasi Terbaru dalam Penanganannya’ yang digelar Roche Indonesia, di Jakarta, Jumat (21/7/2023).
Kanker payudara positif HER2 sekarang menjadi penyakit yang dapat diobati dan hasilnya telah meningkat secara dramatis untuk pasien. Andhika menyebut, perkembangan tata laksana kanker payudara HER2 positif dengan pemberian dua antibodi monoklonal, menggabungkan pertuzumab dan trastuzumab menjadi harapan baru bagi pasien. “Terapi monoklonal, dengan pemberian dua antibodi monoklonal tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan dengan terapi lainnya,” ujarnya. ”Penggabungan dua antibodi monoklonal, pertuzumab dan trastuzumab, dengan enzim hialuronidase dalam satu suntikan ini merupakan terobosan tata laksana kanker payudara HER2 positif.”
Menurut staf pengajar Divisi Hematologi Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), terapi inovatif dengan memberikan dua antibodi monoklonal dalam satu suntikan mengurangi waktu pemberian obat hingga 99 persen. “Pengobatan dengan suntikan tunggal kombinasi dosis pertuzumab dan trastuzumab hanya membutuhkan waktu 5-8 menit, sementara pengobatan standar dengan pemberian infus membutuhkan waktu 4,5 jam hingga 9,5 jam,” beber Andhika.

Kanker payudara HER2 positif diketahui cenderung tumbuh dan menyebar lebih cepat daripada kanker payudara yang HER2-negatif. Kabar baiknya, jenis kanker ini jauh lebih mungkin merespons pengobatan dengan obat yang menargetkan protein HER2.
Selain waktu untuk pemberian obat lebih singkat, manfaat klinis dan keamanan dari pengobatan dengan menggabungkan dua antibodi monoklonal itu sebanding dengan pengobatan yang diberikan melalui infus. “Pengobatan dengan penyuntikan kombinasi pertuzumab dan trastuzumab memberikan kenyamanan bagi pasien,” ujar Andhika.
Menurut studi PHranceSCa (preferensi untuk kombinasi dua dosis tetap pertuzumab dan trastuzumab untuk suntikan subkutan kepada pasien kanker payudara HER2 positif) pada 2021, sekitar 85 persen kanker payudara HER2 positif yang diteliti lebih memilih terapi dengan suntik subkutan pertuzumab dan trastuzumab dibandingkan dengan pemberian infus. Alasannya, pemberian obat lewat suntik subkutan (suntikan di bawah kulit) dinilai lebih nyaman dan singkat meskipun suntikan dirasa lebih nyeri.
Terapi untuk Kanker Payudara HER2 Positif Stadium Dini dan Metastatik
Terapi kombinasi antibodi monoklonal pertuzumab dan trastuzumab dalam satu suntikan ini dapat diberikan untuk pasien kanker payudara HER2 positif pada stadium dini maupun pasien pada stadium metastatik (penyebaran sel kanker). Terapi inovatif ini digunakan bersama dengan perawatan kemoterapi.
Dengan pengobatan melalui suntikan kombinasi antibodi monoklonal untuk kanker payudara HER2 positif, selain lebih nyaman bagi pasien, hal itu juga dapat menghemat sumber daya karena waktu penanganan pasien bisa menjadi lebih singkat. “Penggunaan fasilitas pengobatan pun lebih efisien,” ujar Ketua Indonesia Health Economic Association, InaHEA, sekaligus pengamat farmakoekonomi, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH di kesempatan sama.
Dia menekankan, pengobatan inovatif dalam pengobatan kanker amat diperlukan untuk meningkatkan mutu layanan bagi pasien. Dari sisi rumah sakit, pengobatan melalui suntikan dapat menghemat sumber daya dengan waktu penanganan pasien berkurang hingga lebih 90% serta penggunaan fasilitas pengobatan yang lebih efisien. “Inovasi pengobatan juga akan bermanfaat bagi tenaga kesehatan dan rumah sakit. Pasien secara ekonomi juga diuntungkan dengan ketersediaan obat ini di Indonesia sehingga tidak perlu lagi mencari pengobatan di luar negeri,” imbuhnya.
Sayangnya, pengobatan kanker payudara HER2 positif dengan pemberian suntikan dengan penggabungan pertuzumab dan trastuzumab kini belum ditanggung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pengobatan standar yang ditanggung saat ini dengan pemberian melalui intravena alias infus.
Sementara itu, Access, Comms & Health System Value Strategy Director Roche Indonesia, Lucia Erniawati menekankan komitmen Roche untuk terus berinovasi guna menjawab kebutuhan kesehatan pasien yang belum terpenuhi. “Inovasi pengobatan ini merupakan salah satu langkah penting untuk mendefinisikan ulang standar penatalaksanaan pasien dengan kanker payudara HER2 positif yang dapat diberikan secara cepat, nyaman, dan hemat,” ujarnya
Dia menyerukan pentingnya kerja sama berbagai pemangku kepentingan untuk mengupayakan agar inovasi dalam penatalaksanaan kanker payudara tersebut dapat diakses pasien di Indonesia secara lebih luas melalui sistem jaminan kesehatan. (BS)