Berandasehat.id – Umur nikah pertama dapat menjadi indikator dimulainya seorang perempuan berpeluang untuk hamil dan melahirkan. Perempuan yang kawin usia muda mempunyai rentang waktu untuk hamil dan melahirkan lebih panjang dibandingkan dengan mereka yang kawin pada umur lebih tua dan mempunyai lebih banyak anak. 

Memiliki anak merupakan salah satu tujuan pernikahan, antara lain untuk mendapatkan keturunan. Sayangnya, ada sejumlah pasangan yang sulit mendapatkan anak satu tahun setelah menikah, meski tidak memakai alat kontrasepsi dan terbilang aktif secara seksual.

“Umumnya bila satu tahun menikah namun tidak kunjung hamil sementara tidak memakai alat kontrasepsi atau sengaja menunda kehamilan, sebaiknya segera kunjungi dokter untuk diperiksa dan dicari tahu penyebabnya,” ujar dr Agus Supriadi, SpOG-KFER, spesialis kebidanan dan kandungan RS Premier Jatinegara (RSPJ) di acara Seminar dan Bazar Kesehatan Ibu dan Anak yang digelar RSPJ di Hotel Manhattan Jakarta, Sabtu (29/7/2023).

Dia menyebut, 80 persen pasangan suami istri dalam 12-18 bulan menikah (tanpa memakai kontrasepsi dan aktif secara seksual) bisa hamil. Sementara 20 persen infertil. “Untuk kasus infertil ini, suami dan istri harus diperiksa untuk dicari tahu apa masalahnya,” ujar dr. Agus.

Bicara tentang infertilitas/ketidaksuburan, biasanya wanita yang dituding bermasalah, padahal sejatinya tidak demikian. “Kalau kurang subur, dulu wanita yang disalahkan. Tapi dalam 15 tahun terakhir, sebanyak 50 persen penyebabnya karena faktor laki-laki, yaitu sperma kurang bagus kualitasnya,” imbuh dr. Agus.

Dokter Agus Supriadi, SpOG-KFER, spesialis kebidanan dan kandungan RS Premier Jatinegara (RSPJ) di acara Event Bazar Kesehatan Ibu dan Anak RSPJ di Jakarta, 29 Juli 2023 – dok. Berandasehat.id

Menurut dokter kebidanan dan kandungan RS Premier Jatinegara, kualitas sperma yang kurang baik dapat dipengaruhi sejumlah hal, di antaranya faktor lingkungan seperti polusi, hobi sauna, suka merokok, konsumsi alkohol hingga berprofesi yang berhubungan dengan suhu panas, misalnya koki. “Kebiasaan bekerja dengan memangku laptop dalam waktu lama dekat dengan area genital juga bisa membuat pria memiliki sperma yang kurang baik, baik dari kualitas maupun kuantitas,” ujarnya.

Terkait infertilitas pada wanita, dokter akan menanyakan siklus haidnya, apakah teratur atau tidak. “Kalau maju atau mundurnya tidak lebih dari seminggu, itu terhitung subur. Tapi kalau haidnya tidak teratur, misalnya dua bulan sekali itu harus diperiksa saluran telurnya, apakah ada masalah,” tutur dr. Agus.

Dia menambahkan, siklus haid yang normal umumnya 3-8 hari. “Kalau lebih dari 10 hari, itu tidak normal. Apalagi haid keluar darah sangat banyak, misalnya sehari bisa berganti pembalut sampai lima kali, kemungkinan ada mioma yang menyulitkan kehamilan,” ujarnya.

Dokter Agus juga mengingatkan  untuk mewaspadai keputihan yang tidak biasa. “Keputihan itu hal normal, tapi kalau sudah terasa gatal, ada bercak kekuningan di pakaian dalam, berbau tajam, itu biasanya ada infeksi jamur,” terangnya.

Infeksi jamur tidak bisa dibiarkan karena jika tak diobati maka kuman akan naik masuk ke saluran tuba sehingga terjadi perlengketan. “Itu bisa menyumbat saluran telur yang menyulitkan kehamilan,” beber dr. Agus.

Dia menyarankan agar pasangan suami istri segera konsultasi ke dokter jika dalam waktu satu tahun atau kurang tak kunjung ada tanda-tanda kehamilan. “Nikah di atas usia 35 tahun, tapi enam bulan belum hamil, segera periksa,” saran dokter spesialis kebidanan dan kandungan tersebut. “Makin dini masalah sulit hamil itu diketahui, maka makin cepat ditemukan solusinya, juga lebih hemat biaya.”

Kesempatan sama, CEO RS Premier Jatinegara, dr Susan Ananda MARS, mengatakan, pusat layanan ibu dan anak di RSPJ tidak hanya seputar persalinan dan poliklinik anak, namun juga memiliki layanan fertilitas. “Pada acara ini kami ingin memberikan pengetahuan tentang apa yang diperlukan pasangan untuk mempersiapkan kesehatan kehamilan, mulai dari perencanaan, selama masa kehamilan, pasca kehamilan, bahkan hingga bagaimana menjaga kesehatan anak dengan baik dan tepat. Karena apabila kita memiliki pengetahuan preventif yang sedemikian rupa maka diharapkan hasilnya akan optimal,” tandasnya. (BS)