Berandasehat.id – Anemia merupakan masalah kesehatan global yang masih menjadi tantangan, bahkan hingga kini. Anemia diperkirakan mempengaruhi hampir 2 miliar orang pada tahun 2021, berdampak lebih besar pada wanita daripada pria.
Diterbitkan di The Lancet Haematology, penelitian yang mencakup tiga dekade data anemia global (1990-2021), dilakukan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), yang berbasis di Seattle, dan kolaborator anemia Global Burden of Disease, menghasilkan sejumlah poin penting.
“Dari penelitian selama 30 tahun ini, kami tahu gambaran global seputar anemia telah membaik, tetapi masih ada kesenjangan yang lebar ketika mempersempit fokus pada geografi, jenis kelamin, dan usia,” kata Dr. Nick Kassebaum, penulis senior studi, yang juga kepala tim Neonatal dan Kesehatan Anak IHME, dan Profesor Anestesiologi di University of Washington.
“Kami memodelkan 37 penyebab dasar anemia. Sangat penting bagi dokter untuk menangani penyebab ini secara paralel dengan anemia itu sendiri. Kami berharap mereka menggunakan data ini untuk merancang intervensi dan rencana perawatan yang lebih komprehensif, terutama untuk yang paling rentan, yakni wanita usia subur, anak-anak, dan orang tua,” imbuh Kassebaum.
Secara global, pada tahun 2021, 31,2% wanita mengalami anemia dibandingkan dengan 17,5% pria. Perbedaan jenis kelamin lebih menonjol selama tahun-tahun reproduksi, usia 15-49 tahun. Pada kelompok usia ini, prevalensi anemia pada wanita adalah 33,7% berbanding 11,3% pada pria.
“Selama bertahun-tahun, ada banyak fokus untuk mengurangi anemia secara global, tetapi sebagai kelompok, wanita dan anak-anak menunjukkan kemajuan paling sedikit,” kata Will Gardner, peneliti di IHME dan penulis utama makalah ini.
Dia menambahkan, itu adalah situasi bernuansa yang berputar di sekitar akses ke nutrisi, status sosial ekonomi, kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi, dan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengobati penyebab dasar anemia. “Data kami menunjukkan bagaimana satu kelompok, yakni laki-laki dewasa, bernasib jauh lebih baik daripada dua kelompok lainnya, yaitu kelompok perempuan (usia 15–49) dan anak-anak di bawah lima tahun,” beber Gardner. “Hal ini menunjukkan perlunya pergeseran ke pendekatan multisektoral dan peningkatan kesadaran budaya untuk memastikan perempuan dan anak-anak tidak tertinggal.”

Penyebab Anemia dan Dampaknya
Penyebab utama anemia pada tahun 2021 adalah kekurangan zat besi, yang merupakan 66,2% dari total kasus anemia, dengan 825 juta wanita dan 444 juta pria terkena dampak secara global. “Asupan zat besi yang tidak memadai mungkin merupakan penyebab anemia yang paling umum, tetapi banyak kondisi lain yang menjadi pendorong utama anemia,” sebut peneliti.
Studi tersebut menemukan bahwa gangguan ginekologi dan perdarahan ibu merupakan kontributor penting terhadap beban anemia di kalangan wanita usia subur. Untuk anak-anak di bawah lima tahun, penyebab utama anemia adalah kekurangan zat besi. Namun hemoglobinopati, penyakit menular lainnya, HIV/AIDS, dan malaria juga merupakan kontributor penting di lokasi geografis di mana penyakit ini lazim.
“Anemia berperan berbeda tergantung pada kelompok yang berjuang dengan kondisi tersebut. Untuk anak-anak, anemia dapat mempengaruhi perkembangan dan kognisi otak, jadi perawatan dan penanganan dini sangat penting,” terang Dr. Theresa McHugh, penulis ilmiah di IHME yang berfokus pada kesehatan bayi baru lahir dan anak.
“Ini mungkin berarti mengakses makanan kaya nutrisi berkualitas tinggi dan/atau menerima pengobatan untuk infeksi parasit dan malaria,” imbuhnya.
McHugh lebih lanjut mengatakan, bagi banyak wanita dan gadis muda, ada kesenjangan pendidikan tentang kehilangan darah selama menstruasi, pilihan yang tidak memadai untuk mengatasi masalah menstruasi secara efektif pada mereka yang mengalaminya, dan tidak cukup pengetahuan tentang cara mengelola dan/atau membalikkan anemia ketika itu terjadi. “Kita tahu anemia dapat mempengaruhi kesehatan mental karena kelemahan dan kelelahan yang terkait dapat mengganggu aktivitas yang diinginkan,” tuturnya.
Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa anemia dikaitkan dengan kenaikan tingkat kecemasan dan depresi dan tingkat persalinan prematur yang lebih tinggi, perdarahan pascapersalinan, berat badan lahir rendah, lahir mati, dan infeksi untuk ibu dan anak, demikian laporan MedicalXpress. (BS)