Berandasehat.id – Terkait pertolongan pertama pada luka, masih banyak orang yang menerima informasi yang salah, khususnya dari platform digital dan media sosial. Menurut dokter sekaligus edukator, dr. Kevin Mak, masih banyak mitos yang beredar seputar perawatan luka di media sosial dan masyarakat cenderung percaya dengan informasi yang beredar di platform digital.

Untuk itu, Dokter Kevin membagikan tips cara perawatan luka yang benar. “Perawatan luka sebenarnya sederhana yang bisa dilakukan dalam tiga langkah yaitu bersihkan, lindungi, dan sembuhkan,” ujarnya di acara peringatan World First Aid Day yang digelar Hansaplast di Jakarta, baru-baru ini.

Hal ini berarti, bila terjadi luka, selalu ingat untuk bersihkan luka dengan cairan antiseptik supaya tidak infeksi. Kemudian lindungi luka dengan plester luka, dan selanjutnya  diperlukan penyembuhan yang lebih cepat, bisa menggunakan salep luka. 

Dokter Kevin mengakui edukasi kesehatan di platform digital saat ini cukup efektif. “Apabila para tenaga kesehatan juga bisa mengandalkan platform digitalnya untuk edukasi publik, itu akan mempercepat terbangunnya momentum kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pertolongan pertama dan perawatan luka yang baik,” ujarnya.

Menandai World First Aid Day di bulan September, Hansaplast menggelar kampanye edukasi pertolongan pertama dan perawatan luka melalui program Anak Siaga Hansaplast (yang telah rutin dilakukan sejak 2015) serta First Aid Conference yang ditujukan khusus untuk para tenaga kesehatan (perawat, dokter, dan apoteker) untuk yang kedua kalinya. 

Ilustrasi plester luka (dok. ist)

Di tahun ini, Hansaplast juga meluncurkan inovasi baru, yaitu plester luka ukuran besar – Hansaplast Aqua Protect T XL+ yang merupakan plester kedap air dan Hansaplast Sensitive XL+ untuk kulit sensitif.

Group Brand Manager Health Care PT. Beiersdorf Indonesia Christopher Vierhaus, menyampaikan, jutaan cedera ringan terjadi setiap tahunnya, dan pertolongan pertama yang tepat adalah cara terbaik untuk melindungi terhadap kemungkinan infeksi pada luka. “Itulah sebabnya, Hansaplast memiliki misi sosial global untuk mengedukasi 200.000 anak di seluruh dunia tentang pertolongan pertama dan perawatan luka sampai dengan akhir tahun 2025,” tuturnya. 

Di Indonesia, komitmen ini diwujudkan melalui Anak Siaga Hansaplast (ASH) yang telah diadakan sejak 2015. ASH merupakan program edukasi mengenai pertolongan pertama pada luka (P3K pada luka) kepada anak-anak usia sekolah di Indonesia.

Sampai kini, program ASH sudah berhasil mengedukasi 2.185 guru, 81.470 orang tua, dan 101.028 murid sekolah dasar. Meskipun demikian, edukasi aktif dan berkelanjutan mengenai pentingnya pertolongan pertama masih tetap dibutuhkan mengingat fakta hanya 3 dari 10 orang yang siap memberikan pertolongan pertama. 

“Bergerak dari fakta ini, tahun ini Hansaplast pun melakukan inovasi baru seperti program pelatihan khusus bernama Anak Siaga Champion, rangkaian edukasi mengenai pertolongan pertama pada luka di sosial media dan juga jingle baru Hansaplast,” imbuh Senior Brand Manager Health Care PT Beiersdorf Indonesia Yosephine Caroline. “Sejalan dengan rangkaian aktivitas ini, kami juga menggelar Grebeg Pasar di 7 kota Indonesia untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat Indonesia.”

Yosephine menambahkan, Hansaplast hendak menekankan pentingnya untuk setiap orang mengerti mengenai P3K sehingga bisa membantu diri sendiri dan orang lain. “Kami juga mengajak para tenaga kesehatan untuk membantu memberikan pengetahuan P3K kepada masyarakat Indonesia. Pada konferensi tahun ini, kami juga akan membahas pentingnya platform digital untuk mengedukasi publik dengan harapan masyarakat Indonesia lebih mengerti mengenai P3K dan perawatan luka,” pungkasnya. (BS)