Berandasehat.id – Untuk ketiga kalinya dalam lima tahun, virus Nipah yang merusak otak muncul kembali di distrik Kozhikode di Kerala, India – menyebabkan departemen kesehatan negara bagian mengumumkan peringatan kesehatan setelah dua kematian ‘tidak wajar’ dilaporkan, diikuti oleh empat kasus kontak berisiko tinggi dengan anak berusia 9 tahun yang menggunakan ventilator. 

Meskipun para pasien telah menerima perawatan medis dan kemajuan signifikan telah terlihat pada anak laki-laki berusia 9 tahun yang kini telah dilepas dari alat bantu ventilator, hasil tes sampel lebih banyak masih ditunggu. Karenanya, para ahli kesehatan mendesak agar dilakukan tindakan pencegahan.

Dalam wawancara dengan Hindustan Times Lifestyle, Dr Harish Chafle, dokter spesialis di Rumah Sakit Global di Parel Mumbai, menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan virus zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Menurutnya, infeksi virus Nipah dapat menimbulkan berbagai gejala, antara lain demam, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, gangguan pernapasan, juga ensefalitis (radang otak).

Harish menyoroti, dalam kasus yang parah, infeksi virus Nipah dapat berkembang menjadi koma dalam waktu 24-48 jam dan bisa berakibat fatal. Dokter Harish Chafle memperingatkan terhadap faktor risiko utama dan penyebab infeksi Nipah, mencakup:

Ilustrasi virus Nipah (dok. ist)

1. Reservoir/inang hewan 

Kelelawar buah dianggap sebagai inang alami virus Nipah. Kontak langsung atau tidak langsung dengan kelelawar ini, ekskresi atau air liurnya dapat menyebabkan penularan ke manusia.

2. Konsumsi makanan terkontaminasi

Konsumsi buah-buahan atau jus yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar dapat mengakibatkan infeksi.

3. Penularan dari manusia ke manusia

Setelah seseorang terinfeksi, virus Nipah juga dapat menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, terutama di fasilitas kesehatan.

“Pada pembaruan terakhir saya pada bulan September 2021, tidak ada pengobatan antivirus khusus untuk infeksi virus Nipah,” terang dr Harish Chafle.

Dia menyarankan bahwa perawatan suportif sangat penting, termasuk di antaranya:

  1. Isolasi, pasien harus diisolasi untuk mencegah penularan lebih lanjut.
  2. Pengobatan gejala, termasuk mengelola demam, nyeri, dan gejala lainnya dapat membantu membuat pasien lebih nyaman.
  3. Perawatan intensif, untuk kasus yang parah mungkin memerlukan perawatan intensif, termasuk ventilasi mekanis untuk gangguan pernapasan.
  4. Pengobatan eksperimental, dalam hal ini beberapa pengobatan eksperimental dan obat antivirus telah dieksplorasi, namun efektivitasnya belum diketahui dengan pasti.

“Penting untuk berkonsultasi dengan pakar dan organisasi kesehatan untuk mendapatkan informasi terkini tentang virus Nipah, terutama mengenai perkembangan dalam strategi pengobatan atau pencegahan. Untuk informasi terbaru mengenai virus Nipah, saya sarankan untuk menghubungi otoritas kesehatan terkait, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan penyedia layanan kesehatan setempat atau lembaga untuk mendapatkan panduan ahli khusus di wilayah masing-masing,” tandas dr Harish Chafle. (BS)