Berandasehat.id – Gejala menetap COVID-19 meski telah dinyatakan negatif virus corona tidak hanya dialami orang dewasa atau lansia, namun juga anak-anak. Namun demikian tingkat gejala pasca COVID (kerap disebut long COVID) pada anak-anak sangat rendah, yakni kurang dari 1%, kata para peneliti di balik studi baru yang diterbitkan dalam jurnal jurnal JAMA Pediatrics.
Secara keseluruhan populasi, long COVID mempengaruhi sekitar 10% orang yang tertular COVID-19, Yahoo Life melaporkan.
Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan long COVID sebagai gejala yang terjadi tiga bulan setelah terinfeksi virus. Gejala harus berlangsung setidaknya selama dua bulan tanpa penjelasan lain.
Dalam penelitian terkini, para peneliti mengatakan kebanyakan anak mengalami resolusi gejala dalam waktu dua minggu setelah terinfeksi.
“Ini tidak berarti orang tua harus mengabaikan vaksinasi terhadap anak mereka,” William Schaffner, MD, spesialis penyakit menular dan profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt mengingatkan.

“Kita tahu bahwa vaksinasi tidak hanya mencegah COVID yang parah, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan long COVID,” ujar Schaffner dikutip Yahoo Life. “Saya tidak akan membiarkan penelitian ini mematahkan semangat Anda untuk memvaksinasi anak-anak.”
Dalam studi tersebut, peneliti memeriksa informasi lebih dari 1.000 anak dengan usia rata-rata 10,5 tahun di Alberta, Kanada, dari Agustus 2020 hingga Maret 2021.
Anak-anak dianggap mengidap COVID jangka panjang jika: Mereka memiliki tes PCR positif untuk infeksi COVID-19; Mengalami gejala baru yang dimulai tiga bulan setelah tes PCR positif mengidap virus tersebut; Gejala berlangsung setidaknya delapan minggu setelah gejalanya muncul.
Penelitian menemukan bahwa gejala membaik dalam waktu 10 minggu setelah tes positif COVID-19. Gejala umum termasuk sakit tenggorokan, hidung tersumbat, batuk, dan demam. Hanya satu anak yang dianggap memenuhi definisi WHO sebagai penderita long COVID. (BS)