Berandasehat.id – Ada semakin banyak bukti bahwa kelimpahan mikroba usus tertentu mungkin berhubungan dengan kesehatan tulang, menurut sebuah studi baru yang diterbitkan di Frontiers in Endocrinology. Bila dikonfirmasi oleh penelitian tambahan, temuan ini dapat memberikan peluang untuk mengubah mikrobioma usus guna mencapai kesehatan tulang yang lebih baik, seiring naiknya minat para ilmuwan mempelajari lebih lanjut tentang osteomikrobiologi, sebuah istilah baru yang baru-baru ini digunakan untuk mengarakterisasi hubungan ini.
Karena kurangnya penelitian skala besar pada manusia mengenai mikrobioma usus dan kesehatan tulang, peneliti yang dipimpin oleh Paul C. Okoro, Ilmuwan Data II di Hebrew SeniorLife dan Hinda dan Arthur Marcus Institute for Aging Research, dan peneliti utama Douglas P. Kiel, M.D., M.P.H., Ilmuwan Senior di Marcus Institute, melakukan penelitian observasional berdasarkan Studi Framingham Generasi Ketiga pada pria dan wanita, dan studi Fraktur Osteoporotik pada Pria (MrOS) terhadap pria lanjut usia untuk menentukan apakah mereka dapat menemukan faktor yang berpotensi dapat dimodifikasi yang berkontribusi terhadap kesehatan tulang.
Penelitian ini menggunakan pencitraan resolusi tinggi pada lengan dan kaki. Hal ini penting dilakukan karena kepadatan tulang yang rendah meningkatkan risiko terkena osteoporosis, yang mempengaruhi lebih dari 10 juta orang Amerika yang berusia di atas 50 tahun, dan dapat meningkatkan risiko patah tulang.

Riset bertajuk “Studi Dua Kelompok tentang Hubungan antara Mikrobiota Usus dan Kepadatan Tulang, Mikroarsitektur, dan Kekuatan” menemukan bahwa bakteri yang disebut Akkermansia, yang telah dikaitkan dengan obesitas, dan bakteri Clostridiales DTU089, memiliki hubungan negatif dengan kesehatan tulang pada orang dewasa yang lebih tua.
DTU089, bakteri dari kelas Clostridia, telah dideskripsikan lebih banyak ditemukan pada orang dengan aktivitas fisik rendah, juga asupan protein rendah, dan hal ini bisa menjadi bermakna mengingat penelitian sebelumnya telah menemukan asupan protein dan aktivitas fisik memiliki hubungan yang pasti dengan kesehatan tulang.
“Kami menemukan pola di mana kelimpahan mikrobiota yang lebih besar dikaitkan dengan ukuran kepadatan tulang dan mikroarsitektur yang lebih buruk. Faktanya, beberapa bakteri dikaitkan dengan perbedaan luas penampang tulang, menunjukkan kemungkinan bahwa mikroba tertentu dapat mempengaruhi perubahan ukuran tulang seiring bertambahnya usia,” kata Dr. Kiel dilaporkan laman MedicalXpress.
“Masih terlalu dini untuk mengetahui apakah organisme bakteri itu sendiri mempunyai efek pada kesehatan tulang. Dengan penelitian tambahan, kami mungkin bisa mendapatkan wawasan mengenai hubungan antara spesies bakteri tertentu di usus dan integritas tulang. Kami juga berharap dapat mengidentifikasi jalur fungsional spesifik yang dipengaruhi oleh bakteri yang dapat mempengaruhi kerangka,” imbuh Dr. Kiel.
“Misalnya, beberapa bakteri dapat menyebabkan peradangan tingkat rendah yang dapat mempengaruhi kesehatan tulang. Pada akhirnya, jika temuan seperti ini dikonfirmasi, kita mungkin dapat menargetkan mikrobioma usus untuk mempengaruhi kesehatan tulang,” pungkasnya. (BS)