Berandasehat.id – Sepertiga orang yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 memiliki kelainan pada beberapa organ beberapa bulan setelah terinfeksi, sebut sebuah penelitian di Inggris. Studi itu berpotensi menjelaskan kondisi COVID yang berkepanjangan yang sulit dipahami.
Jutaan orang di seluruh dunia diperkirakan menderita long COVID, yaitu serangkaian gejala seperti sesak napas, kelelahan, dan kabut otak yang bertahan lama setelah pasien pertama kali tertular virus. Namun banyak hal mengenai kondisi ini, termasuk bagaimana tepatnya COVID menyebabkan berbagai gejala, masih belum diketahui.
Studi baru yang diterbitkan di jurnal The Lancet Respiratory Medicine, menandai langkah maju dalam membantu penderita jangka panjang akibat COVID. Ini merupakan penelitian pertama yang mengamati pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) pada berbagai organ, mencakup otak, jantung, hati, ginjal, dan paru setelah pasien dirawat di rumah sakit karena COVID.
Penelitian ini membandingkan pemindaian organ terhadap 259 orang dewasa yang dirawat di rumah sakit karena COVID di seluruh Inggris pada tahun 2020-2021 dengan kelompok kontrol yang terdiri dari 52 orang yang tidak pernah tertular virus corona penyebab COVID.
Hampir sepertiga pasien COVID memiliki kelainan pada lebih dari satu organ rata-rata lima bulan setelah meninggalkan rumah sakit, demikian temuan studi tersebut.

Mereka yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 sebanyak 14 kali lebih mungkin mengalami kelainan paru, dan tiga kali lebih mungkin mengalami kelainan pada otak. Namun hati dan jantung tampaknya lebih tangguh, tambah para peneliti.
Kelainan pada otak termasuk tingginya tingkat lesi otak putih, yang dikaitkan dengan penurunan kognitif ringan. Sedangkan haringan parut dan tanda-tanda peradangan termasuk di antara perubahan yang terlihat pada paru.
Gangguan Mental dan Fisik
“Orang dengan kelainan beberapa organ empat kali lebih mungkin melaporkan gangguan mental dan fisik yang parah, membuat mereka tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari,” kata penulis utama Betty Raman dari Universitas Oxford pada konferensi pers online dikutip AFP.
Untuk dicatat, penelitian ini dilakukan pada fase awal pandemi, sebelum kekebalan massal akibat vaksinasi dan infeksi sebelumnya dapat mengurangi tingkat keparahan COVID-19 secara keseluruhan.
Hal ini juga tidak mencakup varian Omicron yang tidak terlalu parah dan masih dominan di seluruh dunia.
Dan kelompok COVID-19 yang dilibatkan sedikit lebih tua dan umumnya kurang sehat dibandingkan kelompok kontrol, meskipun para peneliti berusaha menyesuaikan temuan mereka untuk memperhitungkan perbedaan-perbedaan ini.
Tetapi orang-orang masih dirawat di rumah sakit karena virus ini di seluruh dunia, kata peneliti.
Rekan penulis studi Christopher Brightling dari Universitas Leicester mengatakan penelitian ini memberikan bukti nyata adanya perubahan pada sejumlah organ setelah orang dirawat di rumah sakit karena COVID.
Alih-alih menimbulkan kekhawatiran, dia mengatakan temuan ini adalah sebuah langkah maju dalam hal benar-benar dapat membantu orang-orang yang menderita COVID-19 yang berkepanjangan.
Matthew Baldwin, seorang spesialis penyakit paru di Universitas Columbia yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan hasil studi itu menunjukkan bahwa COVID yang berkepanjangan tidak disebabkan oleh defisit parah yang terkonsentrasi pada satu organ saja. “Sebaliknya, interaksi dua atau lebih kelainan pada organ mungkin memiliki efek tambahan atau multiplikatif dalam menciptakan defisit fisiologis yang mengakibatkan gejala COVID yang berkepanjangan,” tulis Baldwin dalam artikel komentar di jurnal Lancet. (BS)