Berandasehat.id – Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu ancaman kesehatan global di antara 10 penyakit lainnya yang telah ditetapkan oleh WHO pada awal 2020 dan vaksinasi merupakan salah satu pilar strategi global penanggulangan dengue.
Disampaikan Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), di negara atau wilayah dengan penularan infeksi demam berdarah dengue yang tinggi, anak-anak cenderung paling banyak terkena dampaknya, walaupun paparan pada usia dewasa muda saat ini juga meningkat. “Data Kementerian Kesehatan 2022, pola kematian akibat dengue dominan di kelompok usia muda, yaitu 5-14 tahun (45%). Karenanya, upaya sosialisasi pengendalian vektor nyamuk dan vaksinasi dengue pada anak menjadi sangat penting,” ujar Ketua Komunitas Dengue Indonesia dalam temu media menandai peluncuran kampanye #Ayo3MplusVaksinDBD di Jakarta, baru-baru ini.
Vaksinasi merupakan salah satu langkah pengendalian demam berdarah dengue, perlu untuk diperhatikan dan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif. Dengan adanya vaksin yang dapat diberikan tanpa melihat pengalaman infeksi demam berdarah dengue sebelumnya, diharapkan akan lebih banyak anak yang dapat terlindungi dari infeksi demam berdarah dengue. Vaksinasi juga dapat menurunkan tingkat rawat inap akibat infeksi DBD.

Ilustrasi anak demam (dok. ist)
Kesempatan sama, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia menambahkan, selain anak-anak, orang dewasa juga terancam terkena demam berdarah dengue. “Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) telah merekomendasikan vaksinasi demam berdarah juga diberikan pada orang dewasa sampai umur 45 tahun,” terangnya.
Saat ini vaksinasi demam berdarah dengue dapat diberikan pada setiap orang pada rentang umur 6-45 tahun sesuai dengan anjuran dari dokter.
Tika Bisono, yang kehilangan buah hati pada Juli 2007 akibat infeksi demam berdarah dengue, membuatnya lebih mewaspadai penyakit ini. “Pengalaman tersebut sungguh telah membuat saya dan keluarga belajar untuk bisa lebih paham, siap dan waspada terhadap pencegahan dan penanganan infeksi demam berdarah dengue,” ujarnya.
Pencegahanan inovatif dengan vaksinasi yang telah direkomendasikan oleh asosiasi medis dan pemerintah sebagai pilihan mandiri, menurut Tika, akan membantu menurunkan angka keparahan dan kematian akibat infeksi demam berdarah dengue.
Tika Bisono mendorong masyarakat untuk dapat memanfaatkan akses vaksinasi ini agar mendapatkan perlindungan yang komprehensif melalui vaksinasi, tentu saja melalui konsultasi langsung ke dokter atau ahli medis agar Indonesia agar dapat mencapai tujuan kematian nol demam berdarah dengue pada 2030. (BS)