Berandasehat.id – Pfizer mengoreksi prospek pendapatannya untuk tahun ini secara tajam menyusul penjualan dua obat yang digunakan untuk mengobati COVID-19 yang lebih rendah dari perkiraan. Raksasa farmasi Amerika Serikat itu kini mengantisipasi pendapatan setahun penuh pada tahun 2023 berada di kisaran US$58,0 hingga US$61,0 miliar, dibandingkan kisaran panduan sebelumnya sebesar US$67,0 hingga US$70,0 miliar dalam sebuah pernyataan yang dirilis Jumat (13/10/2023) waktu setempat.

Laba per saham – yang menjadi patokan pasar – menjadi berada di kisaran antara US$1,45 hingga US$1,65 dolar, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar US$3,25 hingga US$3,45.

Dalam pernyataannya, CEO Pfizer Albert Bourla, menegaskan bahwa portofolio produk non-COVID perusahaannya masih berada pada jalur pertumbuhan yang kuat tahun ini. “Portofolio produk non-COVID Pfizer tetap kuat, dan kami terus memperkirakan produk-produk ini akan mencapai pertumbuhan pendapatan operasional dari tahun ke tahun di kisaran 6% hingga 8% pada tahun 2023,” ujarnya dilaporkan AFP.

Dalam pengumuman resmi, perusahaan mengatakan pengurangan pendapatan secara bermakna itu semata karena penjualan obat Covid-19 meleset dari target. “Pendapatan setahun penuh pada tahun 2023 untuk Paxlovid dan Comirnaty diperkirakan mencapai sekitar US$12,5 miliar, turun US$9,0 miliar dibandingkan ekspektasi awal,” bunyi pernyataan resmi Pfizer.

Revisi tajam terhadap ekspektasi penjualan Paxlovid, obat antivirus oral, dan vaksin COVID-19 Comirnaty membuat saham Pfizer anjlok. Saham perusahaan tersebut melemah lebih dari tiga persen pada perdagangan setelah jam kerja pada pukul 17.30 waktu setempat di New York (21.30 GMT).

Setelah lonjakan di akhir musim panas, tingkat COVID-19 telah menurun tajam. Tingkat hasil tes positif, rawat inap, dan kematian akibat virus semuanya turun selama seminggu terakhir, menurut data Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC). (BS)