Berandasehat.id – Tim besar peneliti medis dan ahli epidemiologi internasional telah menemukan bukti bahwa cacar monyet (mpox) telah menyebar ke manusia sejak tahun 2016. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Science, kelompok tersebut menggunakan analisis evolusi Bayesian terhadap virus mpox untuk menunjukkan bahwa virus tersebut memiliki sejarah genetik mencakup perubahan bertahun-tahun karena infeksi pada manusia.

Mpox pertama kali diidentifikasi pada tahun 1950an setelah suatu penyakit menyerang sekelompok monyet penelitian di Denmark. Dua puluh tahun kemudian, kasus pertama terdeteksi pada manusia di Afrika. Selama beberapa dekade berikutnya, beberapa kasus penyakit ini ditemukan pada manusia dan semuanya disebabkan oleh virus yang berpindah dari mamalia lain, demikian laporan Science x Network.

Kemudian, pada tahun 2017, wabah terjadi di Nigeria dan pada 2022, wabah tersebut menyebar ke seluruh dunia, menunjukkan bahwa virus tersebut telah berevolusi dan berpindah dari manusia ke manusia. 

Dalam upaya terbaru, tim peneliti mengamati lebih dekat genom virus di balik mpox untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah evolusinya, khususnya kaitannya dengan infeksi pada manusia.

Para peneliti mengurutkan genom virus mpox untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah evolusinya. Mereka menemukan bahwa clade IIb adalah salah satu yang telah menyebar ke seluruh dunia. Mereka juga mencatat bahwa virus ini terlihat berbeda dari galur lain yang pernah terlihat sebelumnya di Afrika.

Tim peneliti menemukan mutasi yang menyebabkan produksi enzim yang disebut APOBEC3, yang ternyata menyebabkan mutasi lebih lanjut yang mengubah pasangan basa genom. Penyakit ini juga ditemukan terjadi karena infeksi pada manusia. 

Hal tersebut memungkinkan tim untuk menelusuri sejarah evolusi virus saat menginfeksi manusia. Mereka menemukan mutasi tersebut terjadi sekitar tahun 2016, yang sangat menunjukkan bahwa virus tersebut telah menular antarmanusia sejak tahun tersebut.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa ada kemungkinan besar terjadinya beberapa kasus wabah mpox kecil yang belum dikenali, sehingga memungkinkan virus menyebar tanpa terdeteksi. Mereka menyarankan agar metode pengawasan yang lebih kuat dilakukan karena virus ini masih bermutasi dengan cepat dan bisa menjadi lebih mematikan.

Kasus mpox di Indonesia

Kasus pertama cacar monyet di Indonesia disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril secara virtual, pada 20 Agustus 2022. Pasien adalah warga asal DKI Jakarta yang baru tiba dari luar negeri pada 8 Agustus. Kemudian, pada 13 Oktober 2023, pemerintah kembali melaporkan kasus cacar monyet. 

WHO telah menetapkan mpox sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Kepedulian Internasional (PHEIC) pada Juli 2022, sehingga masyarakat tetap harus waspada terhadap potensi penularan.

Data terkini menyebut, kasus Mpox di DKI Jakarta bertambah jadi 27 kasus positif aktif per 3 November 2023. Bila ditambah dengan 1 kasus awal yang sudah sembuh pada Agustus 2022 maka total menjadi 28 kasus. 27 orang yang positif aktif ini berjenis kelamin laki-laki berusia 25 sampai 50 tahun. Semuanya tertular dari kontak seksual. 

Hingga 3 November 2023, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat masih ada 8 orang yang berstatus suspek atau terduga bergejala. Sebelumnya, Dinkes DKI Jakarta sudah melakukan pemeriksaan kepada 67 orang lain yang melakukan kontak erat, tapi hasil PCR-nya menunjukkan negatif. Sementara itu, ada 9 orang lain yang juga pernah melakukan kontak erat, statusnya positif tanpa gejala.

DKI Jakarta telah menerima 1.000 dosis vaksin untuk diberikan kepada 500 orang yang dianggap rentan tertular penyakit ini. Hingga 3 November 2023, total penerima vaksinasi sudah mencapai 495 orang. Vaksin ini hanya diberikan kepada orang-orang dengan risiko paling tinggi untuk tertular mpox. (BS)