Berandasehat.id – Perjuangan melawan demam berdarah mempunyai senjata baru, yakni  nyamuk yang terinfeksi bakteri Wolbachia, yang mencegah penyebaran virus. Nyamuk-nyamuk ini kini telah digunakan dalam beberapa uji coba yang menunjukkan potensi mereka dalam mencegah penularan penyakit.

Saat ini, para peneliti di Universitas Notre Dame telah melakukan analisis terhadap uji coba kontrol acak yang dilakukan oleh World Mosquito Program terhadap nyamuk yang terinfeksi Wolbachia di Indonesia, untuk melihat bagaimana pengecualian terhadap dinamika penularan berdampak pada penafsiran asli hasil uji coba tersebut.

“Uji coba terkontrol secara acak adalah standar emas untuk mengevaluasi kemanjuran intervensi medis atau kesehatan masyarakat. Hal ini sangat sulit dilakukan untuk intervensi vektor terhadap demam berdarah karena kejadian penyakit ini tidak dapat diprediksi dan bersifat sporadis, sehingga memerlukan uji coba skala besar,” jelas Alex Perkins, profesor ilmu biologi di Notre Dame dan penulis senior studi.

Penelitian yang dipublikasikan di BMJ Global Health menggunakan model matematika untuk menganalisis penularan virus demam berdarah selama uji coba di Indonesia. Mereka mengeksplorasi tiga bias, atau sumber potensi kesalahan, yang menjadi subjek uji coba ini: Pergerakan manusia, pergerakan nyamuk, dan gabungan dinamika penularan antara pergerakan manusia dan nyamuk.

Dari semua bias tersebut, peneliti menjelaskan bahwa yang paling bermasalah untuk dikendalikan adalah kopling transmisi. Meskipun bias akibat pergerakan manusia dan nyamuk dapat dikurangi melalui desain uji coba dan metode statistik lainnya, penggandengan penularan memerlukan pemodelan matematis yang biasanya bukan bagian dari analisis uji klinis.

Ilustrasi anak demam (dok. ist)

Studi ini menemukan bahwa jumlah bias yang ditimbulkan dalam suatu uji coba kemungkinan akan lebih besar ketika populasi yang menerima intervensi dalam uji coba tersebut lebih besar. Dalam uji coba di Indonesia, hampir separuh populasi diobati dengan nyamuk ber-Wolbachia. “Hal ini membuat bias yang kami temukan akibat kopling transmisi menjadi sangat penting dalam uji coba ini,” kata Perkins.

Meskipun uji coba Wolbachia di Indonesia menunjukkan penurunan infeksi demam berdarah sebesar 77%, tim Perkins memperkirakan bahwa hasil tersebut mungkin diremehkan. Konsisten dengan prediksi mereka, percobaan baru-baru ini di Kolombia menunjukkan penurunan kejadian demam berdarah sebesar 94 hingga 97%, dengan menggunakan pendekatan rangkaian waktu terputus.

“Meskipun kami tidak menunjukkan perkiraan revisi yang tepat dari uji coba di Indonesia, hasil menunjukkan bahwa kemanjuran yang mendekati hasil yang diamati dalam analisis rangkaian waktu yang terputus dari Kolombia secara teori mungkin terjadi,” kata Perkins. 

“Saya sangat terkejut melihat hasil-hasil rangkaian waktu yang diperbarui ini, yang membuat pendekatan Wolbachia terus terlihat menggembirakan,” imbuhnya.

Perkins juga mencatat bahwa penurunan kasus demam berdarah mungkin tidak akan berlangsung selamanya dan kejadian seperti kelahiran, kematian, dan imigrasi akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit ini, sehingga mempengaruhi jumlah kasus dalam jangka panjang.

Mengenai penelitian penyakit menular vektor di masa depan, Perkins menjelaskan bahwa penting untuk menggabungkan pemodelan dinamika transmisi dalam perancangan dan interpretasi uji coba untuk memastikan para peneliti memahami dampak sebenarnya dari setiap intervensi. (BS)