Berandasehat.id – Malaria disebabkan oleh parasit yang disebarkan melalui gigitan nyamuk pengisap darah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan terdapat 247 juta kasus malaria di seluruh dunia pada tahun 2021, dengan lebih dari 600.000 kematian, terutama di Afrika. Anak-anak di bawah usia 5 tahun menyumbang sekitar 80% dari seluruh kematian akibat malaria di wilayah tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Lancaster University telah mengarah pada penemuan peran nyamuk malaria Asia, Anopheles stephensi, dalam penyebaran malaria yang resisten terhadap obat dan diagnosis di Afrika.

Setelah terdeteksi pertama kali di Djibouti pada tahun 2012, nyamuk malaria Asia Anopheles stephensi menyebar ke Tanduk Afrika (Ethiopia, Sudan, Somalia, dan Eritrea) dan sekitarnya (Yaman, Nigeria, Kenya, dan Ghana) dengan kecepatan yang belum pernah terjadi.

Orang-orang di rumah tangga/asrama dengan An. stephensi positif memiliki risiko tertular malaria 270% lebih tinggi dibandingkan rumah tangga/asrama dimana An. stephensi tidak terdeteksi, demikian laporan MedicalXpress.

Selain itu, dua ancaman biologis lain untuk mengendalikan malaria telah diidentifikasi: resistensi obat dan resistensi diagnosis parasit.

Luigi Sedda dari Lancaster Ecology and Epidemiology Group di Lancaster University Medical School adalah penulis pertama makalah yang diterbitkan di Nature Medicine.

“‘Ini adalah temuan yang sangat penting. Nyamuk yang menyebar di Tanduk Afrika dari Asia mendorong wabah malaria perkotaan besar-besaran di Ethiopia. An. stephensi menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena meningkatnya keberadaan geografis, kemampuan untuk bertahan sepanjang tahun dan untuk melawan insektisida yang ada saat ini, dan untuk menularkan parasit yang resisten terhadap obat dan diagnosis,” ujar Sedda.

Kapasitas Anopheles stephensi dalam menggunakan wadah penyimpanan air buatan, yang banyak terdapat di wilayah perkotaan Afrika yang berkembang pesat, ditambah dengan keunikan ekologi, sifat plastisitas perilaku, dan ketahanan terhadap insektisida utama, menjadikannya sulit dikendalikan dengan alat pengendalian nyamuk konvensional.

Bukti terbaru tersebut dapat mengubah prospek pengendalian dan eliminasi malaria dalam menghadapi intervensi di masa depan yang mengabaikan keberadaan spesies invasif ini.

“Karakteristik epidemiologi dari penyakit malaria yang disebabkan oleh An. stephensi dapat menantang ekspektasi terhadap vaksin malaria baru untuk mengurangi beban penyakit malaria dan kematian di Afrika, benua yang sudah sangat terkena dampak malaria dan dimana keberhasilan dalam pengurangan yang telah dicapai saat ini terhenti,” tandas Sedda. (BS)