Berandasehat.id – Stroke di usia muda menjadi hal yang lazim belakangan ini. Beragam faktor menjadi penyebabnya, selain faktor yang sudah ada (misalnya penyakit jantung), hal lain yang memicu stroke di usia produktif adalah gaya hidup, di antaranya merokok, konsumsi alkohol, obesitas hingga budaya malas gerak atau sedentari. Sebuah penelitian menemukan bahwa terjadinya peningkatan risiko stroke di usia muda – terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia – disebabkan karena meningkatnya angka perokok dan minuman beralkohol.
Berbagai literatur menunjukkan bahwa sebagian besar faktor risiko stroke pada orang dewasa muda serupa dengan orang dewasa yang lebih tua, antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas.
“Hipertensi itu faktor risiko stroke yang paling utama,” ujar anggota dewan pembina Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSh), Prof.Dr.dr.Yuda Turana Sp.S., di acara temu media menandai peluncuran Kalkulator Risiko Stroke dari Omron Healthcare di Jakarta, baru-baru ini.
Dia mengatakan, makin tua usia seseorang maka risiko hipertensi akan makin besar. Sedangkan faktor lain yang meningkatkan risiko hipertensi di antaranya proses kehamilan, kontrasepsi hormonal, riwayat hipertensi keluarga, kegemukan dan gaya hidup tidak aktif.
Prof Yudha menyebut ras Asia memiliki kecenderungan hipertensi lebih tinggi. ““Ras Asia itu ada sensitivitas terhadap garam sehingga memiliki kecenderungan hipertensi lebih tinggi,” cetusnya. Untuk menurunkan hipertensi terkait konsumsi garam, dia menyarankan menggunakan garam kalium bukan berbasis natrium.

Diskusi media tentang pemantauan hipertensi dan pencegahan stroke (dok.Berandasehat.id)
Dia juga menyoroti kesehatan mental yang rentan menimpa anak muda berkontribusi terhadap hipertensi di usia produktif. “Faktor psikis, termasuk kesehatan mental, bisa memicu hipertensi. Stres pekerjaan karena harus mengejar target bisa menjadi pemicu tekanan darah tinggi, di antara kebiasaan tidak sehat lainnya,” tutur Prof Yudha. “Apalagi angka merokok di Indonesia tinggi, demikian juga dengan gaya hidup tidak aktif yang didukung teknologi.”
Tidak Menimbulkan Gejala
Dianggap sebagai ‘pembunuh senyap’ hipertensi biasanya tidak menimbulkan gejala, bahkan ketika angkanya sangat tinggi. Laman Medical News Today menyebut, gejala tertentu mungkin muncul pada penderita hipertensi. Namun, hal ini tidak selalu terjadi sebagai akibat langsung dari tekanan darah tinggi, pusing dan bercak di area mata.
Karena tidak ada gejala, orang kerap tidak menyadari mengidap hipertensi. Padahal, hipertensi yang tidak terkontrol bisa memicu stroke, yakni kondisi medis yang berpotensi melemahkan – yang terjadi ketika ada penyumbatan (stroke iskemik) atau pecah pembuluh darah (stroke hemoragkj) di otak, sehingga menghambat aliran darah ke otak dan menyebabkan kematian sel otak.
Stroke lebih sering terjadi pada orang tua. Namun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyatakan bahwa seseorang bisa terkena stroke pada usia berapa pun. Studi menyebut 1 dari 7 stroke terjadi pada orang berusia 15–49 tahun.
Tekanan darah tinggi mempunyai hubungan dengan faktor risiko stroke iskemik lainnya, seperti aterosklerosis. Data artikel tahun 2019 di jurnal Asosiasi Jantung Amerika mencatat bahwa tekanan darah tinggi menyerang 1 dari 8 orang berusia 20–40 tahun, dengan kata lain di usia produktif. Angka ini kemungkinan akan meningkat sebagai akibat dari perilaku gaya hidup tidak sehat dan menurunnya tindakan diagnosis untuk hipertensi.
Untuk mengetahui apakah kita memiliki hipertensi, caranya dengan pengukuran yang bisa dilakukan di klinik dokter atau secara mandiri di rumah dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah. Orang dikatakan mengidap hipertensi jika saat tekanan darah diukur menunjukkan angka lebih dari 140/90 mmHg. Angka pembacaan antara 120/80 mmHg dan 139/89 mmHg menunjukkan adanya risiko terkena hipertensi. Bila angka menunjukkan kurang dari 120/80 mmHg dikatakan memiliki tekanan darah normal.
Mewaspadai Hipertensi Pagi
Prof Yudha mengatakan, tekanan darah naik dan turun sepanjang hari dan malam. Sejumlah literatur menunjukkan saat tidur, tekanan darah turun 10-30 persen, selanjutnya meningkat sekitar waktu bangun. Pada beberapa orang, peningkatan ini mungkin signifikan dan mengakibatkan hipertensi pagi. “Tekanan darah itu ada siklus harian, bervariasi sepanjang hari dan seringkali meningkat saat bangun tidur,” terangnya.
Hipertensi pagi hari perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Keadaan darurat medis ini sering terjadi pada jam-jam awal ketika tekanan darah meningkat. “Orang yang yang mengukur tekanan darah tinggi di pagi hari biasanya memiliki hasil pemeriksaan tekanan yang lebih rendah pada waktu lain misalnya saat siang, sore dan malam hari,” ujar Prof Yudha.
Itulah alasan mengapa orang dengan risiko hipertensi perlu memiliki alat pengukuran mandiri di rumah dan tidak bergantung pada pemeriksaan di klinik atau praktik dokter. “Tekanan darah ada siklus harian dan tertinggi terjadi di pagi hari. Makanya perlu minum obat hipertensi sebagai antisipasi 24 jam termasuk serangan fajar (hipertensi pagi),” terang Prof Yudha.
Dia menekankan, secara alami, tekanan darah di pagi hari memang sudah tinggi. “Bayangkan jika itu ditambah dengan mengawali hari secara terburu-buru, stres dan terbangun dengan kecemasan. Itu tekanan darah bisa lebih tinggi di pagi hari,” ujar Prof Yudha seraya menekankan pemeriksaan tekanan darah di klinik sesekali tidak bisa menjadi acuan angka tekanan darah yang sebenarnya. “Harus cek mandiri di rumah.”
Sebuah studi yang dilakukan oleh Omron Healthcare menemukan bahwa pasien hipertensi yang rutin memeriksa tekanan darah mereka di rumah, dapat mengurangi tekanan darah mereka rata-rata sebesar 10 mmHg. Dengan kata lain, kejadian stroke dapat dicegah dengan memantau tekanan darah dan gaya hidup.
Periksa Tekanan Darah Teratur Kurangi Risiko Stroke
Sementara itu, sebuah studi internal yang dilakukan oleh Omron dari November 2021 hingga Oktober 2022 menemukan bahwa melakukan pemeriksaan tekanan darah secara teratur di rumah dapat mengurangi risiko stroke hingga 54 persen.
Mendiagnosis tekanan darah tinggi di pagi hari biasanya bergantung pada pembacaan yang dilaporkan sendiri oleh pasien/orang dengan hipertensi. Tergantung pada hasil pembacaan ini, dokter mungkin merekomendasikan tes pemantauan tekanan darah 24 jam. Tes ini melibatkan penggunaan perangkat yang melakukan pembacaan tekanan darah secara teratur sepanjang hari dan malam.
Selain itu, pemeriksaan tekanan darah di rumah secara teratur dapat membantu penderita hipertensi lebih memahami fluktuasi tekanan darah, sekaligus mengidentifikasi episode hipertensi pagi. Pasalnya, studi menunjukkan orang dengan pola tekanan darah abnormal mungkin berisiko mengalami komplikasi, misalnya serangan jantung dan stroke. Tinjauan studi pada 2010 menunjukkan, kejadian stroke dan masalah jantung serius lainnya memuncak dalam 4 hingga 6 jam pertama setelah bangun tidur.
Untuk membantu memanajemen kesehatan kardiovaskular berbasis perawatan pencegahan, salah satunya bisa menggunakan alat monitoring tekanan darah seperti OMRON Complete, yakni alat monitoring tekanan darah lengan atas dengan teknologi EKG built-in untuk mengukur tekanan darah dan EKG secara bersamaan.

Omron Complete, alat ukur tekanan darah dan EKG secara bersamaan (dok. ist)
Disampaikan Direktur Omron Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe OMRON Complete memiliki kemampuan untuk mengukur kedua faktor risiko stroke dalam satu alat, memudahkan orang yang memiliki fibrilasi atrium (gangguan irama jantung) untuk melacak kondisi kesehatan dan mengetahui kapan harus mencari pengobatan.
Fibrilasi atrium merupakan gangguan irama jantung di mana serambi jantung berdenyut sangat cepat (lebih dari 300 kali/menit) dan tidak beraturan. Irama jantung yang tidak teratur juga dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup seseorang yang menderita fibrilasi atrium.
Selain itu, gangguan irama jantung itu berpotensi memicu stroke. Studi menunjukkan penderita fibrilasi atrium berisiko 5 kali lebih tinggi untuk kejadian stroke dibandingkan yang tidak memilikinya. Stroke yang diakibatkan oleh fibrilasi atrium biasanya lebih berat dan menyebabkan gejala sisa ataupun kecacatan yang lebih berat bahkan kematian bila dibandingkan dengan penyebab stroke yang lain.
“Pemantauan tanda-tanda vital seperti tekanan darah dan elektrokardiogram secara teratur penting untuk mengidentifikasi dan mengelola kondisi tanpa gejala seperti hipertensi dan irama jantung yang tidak normal serta memungkinkan pencegahan dan intervensi dini,” pungkas Tomoaki Watanabe. (BS)