Berandasehat.id – Percepatan penurunan prevalensi stunting menjadi prioritas nasional saat ini. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting di posisi 14 persen pada 2024. Harus diakui ini merupakan target berat dan pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri. Butuh kolaborasi para pihak, termasuk akademisi dan sektor swasta untuk mengejar target percepatan penurunan stunting tersebut.
Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, dr. Elvieda Sariwati, M.Epid menyampaikan upaya pencegahan stunting dan disparitas tinggi di berbagai daerah membutuhkan informasi komprehensif terkini. “Di antaranya dibutuhkan informasi dan edukasi tenaga kesehatan (nakes) dan kader posyandu. Peran mereka penting sebagai sumber informasi terdekat masyarakat,” ujarnya di acara peluncuran Platform Learning Center hasil kolaborasi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) dan Positive Deviance Resource Center Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PDRC FKM UI) di Kampus UI Depok Jawa Barat, baru-baru ini.

Peluncuran Platform Learning Center PDRC FKM UI (dok. ist)
Elvieda menambahkan, nakes dan kader posyandu merupakan penyambung program pemerintah yang diperlukan untuk menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. “Dalam hal ini, FKM UI dan mitranya dapat membantu percepatan penurunan stunting melalui edukasi nakes dan kader,” bebernya.
Saat ini ada 1,5 juta kader di 330 posyandu. “Diharapkan informasi yang mereka peroleh dapat meningkatkan cakupan dan kualitas layanan penguatan percepatan stunting,” terang Elvieda.
Kesempatan sama Dekan FKM UI, Prof. dr. Mondastri Korib Sudaryo menekankan masyarakat membutuhkan informasi yang benar terkait stunting. “Untuk menurunkan angka stunting, nakes dan kader posyandu harus memiliki pemahaman seragam yang pada akhirnya dapat mengubah perilaku masyarakat,” ujarnya.
Guna membantu pemerintah dalam mempercepat penurunan stunting, Indofood bersama FKM UI meluncurkan Platform Learning Center, modul pembelajaran online bagi nakes dan kader posyandu. Platform ini berisikan video-video edukasi mengenai gizi dan kesehatan yang menarik, informatif dan mudah dimengerti.
Direktur Indofood Axton Salim mengatakan edukasi merupakan investasi yang penting dalam upaya penurunan stunting. “Untuk itu pengetahuan tentang stunting dan anemia pada nakes dan kader posyandu perlu ditingkatkan. Dibutuhkan informasi yang dapat menjangkau nakes dan kader dengan cepat tanpa batas-batas ruangan,” ujarnya. “Kesempatan ini, mewakili Indofood dan Scaling Up Nutrition Business Network, saya mengucapkan selamat kepada FKM UI atas peluncuran Platform Learning Center PDRC FKM UI dan sekaligus Stunting Resource Center.”
Indofood, sebut Axton, menyambut baik ajakan kerja sama dari PDRC FKM UI untuk turut berkontribusi dalam pembuatan video dan platform e-learning. “Apalagi platform ini ditujukan bagi para tenaga kesehatan dan kader posyandu yang terlibat langsung dalam mendampingi ibu selama kehamilan, menyusui hingga anaknya berusia 24 bulan. Edukasi ini sangat penting mengingat mereka berada dalam garda terdepan yang juga berperan dalam penurunan prevalensi stunting,” terangnya.
Materi pembelajaran terdiri dari 6 modul yaitu Stunting, Anemia pada Ibu Hamil, Pemberian Makan pada Bayi dan Anak, Imunisasi dan Suplementasi Vitamin A, Taburia, PMT Balita dan PMT Ibu Hamil, serta modul Calon Pengantin dan Remaja Putri.
Axton menyebut, saat ini telah diselesaikan 3 modul untuk para nakes yakni Stunting, Anemia pada Ibu Hamil, Pemberian Makan pada Bayi dan Anak serta 2 modul untuk kader yaitu Stunting dan Anemia pada Ibu Hamil. “Total video singkat yang telah diproduksi berjumlah 52 video. Ke depannya, kami masih akan memproduksi video-video guna melengkapi edukasi ini,” bebernya.

Peluncuran Platform Learning Center PDRC FKM UI (dok. ist)
Video edukasi dalam platform digital ini dapat diakses kapan saja, di mana saja tanpa hambatan ruang dan waktu sehingga harapannya dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat dan lebih cepat.
Lebih lanjut Axton menerangkan, pembelajaran dilakukan secara asinkronus, dimana para peserta diminta belajar dengan menonton video dan mengerjakan tugas secara mandiri. Setelah lulus sesi asinkronus, dilanjutkan dengan sesi sinkronus, yakni peserta akan belajar tatap muka online dengan para ahli. “Peserta dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat ketika sudah menyelesaikan sesi asinkronus dan sinkronus,” tandasnya.
Axton menyebut, sebelumnya Indofood dan PDRC FKM UI telah banyak bekerja sama antara lain program CSR intervensi 1.000 HPK (2013 dan 2017), dengan memberikan training for trainers dan revitalisasi lebih dari 250 posyandu. Pada 2015 dilakukan kerja sama edukasi gizi remaja putri secara luring (offline), school to school terutama di pesantren putri. Serta, pada 2018 diluncurkan Program Hidup Sehat Yuk! yaitu program edukasi gizi dan kesehatan bagi remaja hasil kolaborasi Indofood dan PDRC FKM UI. “Program ini menjangkau lebih dari 2,1 juta remaja atau sekitar 10% populasi remaja di Indonesia,” pungkas Axton. (BS)