Berandasehat.id – Kecerdasan buatan (AI) tengah naik daun dan menjadi andalan di berbagai bidang, termasuk medis. Sebuah tim peneliti AI di Google Research dan Google DeepMind telah mengembangkan dasar-dasar sistem dialog diagnosis berbasis AI untuk melakukan wawancara medis. Kelompok ini telah menerbitkan makalah yang menjelaskan penelitian mereka pada server pracetak arXiv.
Ketika dokter mewawancarai seorang pasien untuk menentukan situasi medis apa yang perlu ditangani, walaupun kadang-kadang pasien merasa wawancara seperti itu hanya dilakukan secara sepintas, sebagian besar wawancara tersebut efisien dan memberikan hasil yang akurat.
Namun masih ada ruang untuk perbaikan, catat para peneliti. Salah satu kelemahan banyak dokter adalah sikap mereka saat menghadapi pasien. Karena keunikan kepribadian, jadwal kerja yang ketat dan sibuk, atau berurusan dengan pasien yang tidak selalu baik dan sopan, beberapa pewawancara medis mungkin terlihat kaku atau saklek ehingga menimbulkan persepsi bahwa dokter tidak terlalu peduli terhadap kesejahteraan pasien.

Dalam upaya baru ini, tim di Google telah mencatat bahwa banyak LLM, seperti ChatGPT, sering kali terlihat cukup berempati dan sangat ingin membantu – hal-hal yang terkadang kurang dalam wawancara dengan dokter. Hal ini memberi mereka dorongan untuk mulai mengerjakan LLM yang suatu hari nanti mungkin berkembang menjadi sistem dialog diagnostik dunia nyata.
Sistem baru ini disebut Articulate Medical Intelligence Explorer, atau AMIE. Tim di Google dengan cepat menunjukkan bahwa ini masih murni eksperimental. Mereka juga mencatat bahwa membangun sistem itu adalah hal yang unik dan sulit karena kurangnya wawancara medis dokter/pasien yang tersedia untuk digunakan sebagai materi pelatihan.
Hal ini mendorong mereka untuk mencoba pendekatan baru untuk mengajarkan sistem mereka sendiri dalam cara menanyakan pasien. Pertama, mereka melatihnya mengenai terbatasnya jumlah data yang tersedia untuk umum. Tim kemudian mencoba membujuk sistem untuk melatih dirinya sendiri dengan mendorongnya untuk memainkan peran sebagai seseorang yang menderita penyakit tertentu. Selanjutnya, mereka meminta sistem untuk berperan sebagai kritikus yang telah menyaksikan beberapa wawancara yang dilakukan sistem.
Sistem kemudian mewawancarai 20 relawan yang dilatih untuk berpura-pura menjadi pasien. Hasilnya dinilai oleh profesional medis untuk menentukan keakuratannya. Para relawan yang berperan sebagai pasien mengevaluasi cara sistem di samping tempat tidur pasien.
Para peneliti menemukan AMIE sama akuratnya dalam mendiagnosis pasien seperti halnya dokter terlatih. Mereka juga menemukan bahwa skornya lebih baik dengan sikapnya di samping tempat tidur pasien.
Tim di Google berencana untuk meningkatkan kemampuan sistem ketika diuji dalam kondisi nyata yang lebih realistis dan untuk lebih meningkatkan cara kerjanya, demikian dilaporkan Science x Network. (BS)