Berandasehat.id – Menjadi ibu, meskipun itu fitrahnya perempuan, ternyata bukan hal mudah terutama di era digital padat informasi. Hal itu dialami oleh ibu muda di kalangan Milenial (28-43) dan Gen Z (18-27). Menurut hasil survei Deloitte Global Millennial tahun 2020, tingkat stres orang tua Milenial mencapai 45%, sementara orang tua Gen Z mencapai 53%. Fakta ini menyoroti urgensi pola pengasuhan anak, khususnya di era digital.
Survei menyebut, menjadi ibu di kalangan Milenial dan Gen Z tidak semudah yang dibayangkan, penyebabnya di antaranya mereka lebih memiliki keinginan menjadi ‘ibu yang sempurna’ dibandingkan generasi sebelumnya dan ekspektasi berlebih untuk diri sendiri. Apalagi di era media sosial banyak konten menyajikan sosok ibu ideal, yang memberikan tekanan lebih pada kalangan ‘mamah muda’ tersebut.
Being a Mother is learning about strengths
you didn’t know you had – Linda Wooten (author)
Akibatnya bisa ditebak, para ibu dari kalangan Milenial dan Gen Z itu ‘kewalahan’ demi mewujudkan hasrat menjadi ibu yang sempurna bagi buah hati. “Banyak ibu dari kalangan Milenial dan Gen Z mengalami burnout, kurang tidur, suasana hati mudah berubah dan tidak ada waktu untuk diri sendiri,” ujar Aninda, psikolog perkembangan anak usia dini di acara temu media Baby Huki yang dihelat di Jakarta, baru-baru ini.

Kelelahan akibat kurang tidur berpotensi penyebab utama mood negatif pada ibu yang menjadikan pengasuhan anak menjadi kian menantang. Dengan demikian menemukan pola pengasuhan yang pas bagi Milenial dan Gen Z menjadi hal penting.
Aninda mengatakan, smart parenting (pola asuh pintar) bisa diterapkan oleh kalangan ibu muda. Smart parenting merupakan pola asuh yang fokus untuk memenuhi 6 aspek perkembangan anak sesuai dengan usianya. Enam aspek perkembangan ini meliputi: Fisik-Motorik, Kognitif-Bahasa, dan Sosial-Emosional.
Manfaat pola asuh pintar untuk ibu dan anak
Psikolog perkembangan anak usia dini itu menyebut, smart parenting memiliki sejumlah manfaat, bagi anak juga ibu. Untuk anak, smart parenting dapat mendorong perkembangan anak maksimal sesuai dengan usianya. Selain itu, diri anak (karakter) menjadi sebuah hal yang ‘dipelajari’ oleh ibu. “Anak-anak yang diasuh dengan smart parenting tumbuh menjadi happy kid karena merasa kebutuhannya terpenuhi. Mereka umumnya memiliki IQ dan EQ yang baik. Juga memiliki kedisplinan karena terbiasa tumbuh on-track,” tutur Aninda.
Pada ibu, menerapkan pola asuh pintar akan mengurangi stres. “Karena pola asuhnya dikaitkan dengan aspek perkembangan, usia, dan karakter anak, bukan semata membandingkan dengan sekitar,” terang Aninda.
Pola asuh pintar secara tidak disadari, menciptakan batasan dengan menjadi ibu sempurna di media sosial itu. Selain itu, ibu akan makin paham dengan kebutuhan diri
sendiri, termasuk pencapaian yang
sudah diraih dengan menjadi ibu.
Lebih lanjut Aninda mengungkap, praktik pola asuh pintar memiliki manfaat psikologis yang signifikan. Misalnya pada saat menyusui. Proses menyusui ada momen yang intens, yang melibatkan keterikatan emosional antara ibu dan anak. “Di momen itu ibu bisa sambil berdongeng, memperkenalkan benda di sekitarnya, mengenal tanaman atau hewan,” ujarnya.
Untuk itu, penting bagi ibu memahami dan mengelola emosi dengan baik, merespons dengan tenang, sehingga terjalin interaksi positif di setiap momen perawatan.
Selain itu, smart parenting bisa diwujudkan dengan mendengarkan dan memahami perasaan anak, memberikan dukungan positif, serta menjalani self-care. “Langkah-langkah ini menjadi kunci untuk menciptakan kebahagiaan, bukan hanya bagi si Kecil, tetapi juga bagi ibu. Dengan merawat diri dan memberi waktu untuk diri sendiri, orang tua dapat mencapai keseimbangan optimal antara peran sebagai orang tua dan kebutuhan individu mereka,” tandas Aninda.
Dia berbagi tips cara menerapkan pola asuh pintar, di antaranya menyusui sambil bercerita, menggendong bayi sambil mengikuti irama musik, mengajak bermain di depan cermin, menstimulasi fisik dengan memijat sebelum mandi, dan menyadari bahwa setiap bayi istimewa dengan keunikannya masing-masing.
Nikita Willy dan Issa jadi brand ambassador Baby Huki
Untuk mendukung konsep pola asuh pintar, Baby Huki – produk perlengkapan bayi dari PT. Ikapharmindo Putramas Tbk – menggandeng Nikita Willy bersama buah hatinya, Issa, sebagai brand ambassador Baby Huki. “Baby Huki dan Nikita Willy akan menjadi kombinasi yang tepat sebagai representasi smart parenting dalam membantu orang tua memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang optimal si Kecil,” ujar Marketing Manager Baby Huki Risa Trisanti.
Sebagai sosok aktif, Nikita Willy menjadi inspirasi dalam menerapkan pola pengasuhan modern yang pintar. “Ini sejalan dengan visi Baby Huki untuk memberikan solusi kepada para ibu muda yang mungkin sering mengalami stres dan cemas dalam menghadapi paparan informasi di media sosial, serta terkadang terpengaruh oleh mitos atau budaya seputar pola asuh si Kecil,” imbuh Risa.

Kesempatan sama, General Manager Sales Marketing Baby Huki Franciska Puspa Julia menambahkan, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, Baby Huki memahami kekhawatiran yang sering dialami para ibu dalam pola pengasuhan anak. “Melalui konsep pola asuh pintar, Baby Huki berkomitmen untuk memberikan yang terbaik, tidak hanya memenuhi kebutuhan praktis dalam pola pengasuhan si Kecil, tetapi juga memberikan perlindungan dan rasa aman padanya,” bebernya.
Nikita Willy mengaku terlibat langsung dalam pola asuh buah hatinya. “Memberikan perhatian maksimal pada Issa adalah prioritas saya,” ujarnya.
Jauh sebelum ditunjuk sebagai duta, Nikita mengaku sudah menggunakan botol susu Baby Huki. “Desain dotnya memenuhi standar ortodontik, ditambah bentuknya yang pipih mirip puting payudara sehingga memberikan kenyamanan pada anak dan menghindarkan kebingungan puting saat menyusu,” terangnya.
Franciska menambahkan, memiliki rangkaian produk berkualitas yang telah melalui uji klinis, Baby Huki juga menjadi satu-satunya botol susu yang mendapatkan sertifikasi halal di Indonesia. “Dengan begitu diharapkan Bunda dapat lebih tenang dan yakin dalam memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang optimal si Kecil,” pungkasnya. (BS)