Berandasehat.id – Merokok berdampak besar pada respons imun, seperti halnya faktor lain terkait usia, jenis kelamin, dan genetika, demikian menurut studi baru.

Selain berdampak jangka pendek terhadap kekebalan tubuh, merokok juga mempunyai dampak jangka panjang. Selama bertahun-tahun setelah orang berhenti dari kebiasaan tersebut, perokok akan merasakan dampak pada beberapa mekanisme pertahanan tubuh yang didapat saat merokok.

Sistem kekebalan tubuh setiap orang sangat bervariasi dalam hal seberapa efektif mereka merespons serangan mikroba. Namun bagaimana variabilitas ini dapat dijelaskan? Faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan tersebut?

Tim ilmuwan di Institut Pasteur menggunakan kelompok Milieu Intérieur yang terdiri dari 1.000 relawan sehat, yang dibentuk untuk memahami variabilitas respons imun.

“Untuk menjawab pertanyaan kunci tersebut, kami membentuk kelompok Milieu Intérieur yang terdiri dari 1.000 individu sehat berusia 20 hingga 70 tahun pada tahun 2011,” komentar Darragh Duffy, Kepala Unit Imunologi Translasi di Institut Pasteur dan penulis studi dikutip laman MedicalXpress.

Meskipun faktor-faktor tertentu seperti usia, jenis kelamin, dan genetika diketahui memiliki dampak signifikan terhadap sistem kekebalan tubuh, tujuan dari penelitian baru ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor lain yang memiliki pengaruh paling besar.

Para ilmuwan memaparkan sampel darah yang diambil dari individu dalam kelompok Milieu Intérieur ke berbagai jenis mikroba (virus, bakteri, dan sebagainya) dan mengamati respons imun mereka dengan mengukur tingkat sitokin yang disekresikan.

Dengan menggunakan sejumlah besar data yang dikumpulkan dari individu-individu dalam kohort, tim kemudian menentukan mana dari 136 variabel yang diteliti – mencakup indeks massa tubuh, merokok, jumlah jam tidur, olahraga, penyakit masa kanak-kanak, vaksinasi, lingkungan hidup – yang memiliki pengaruh buruk paling besar terhadap respons imun yang diteliti.

Ilustrasi rokok (dok. ist)

Tiga variabel yang menonjol: merokok, infeksi sitomegalovirus laten, dan indeks massa tubuh. “Pengaruh ketiga faktor ini terhadap respons imun tertentu bisa sama dengan usia, jenis kelamin, atau genetika,” kata Darragh Duffy.

Sehubungan dengan merokok, analisis data menunjukkan bahwa respons peradangan yang langsung dipicu oleh infeksi suatu patogen, meningkat pada perokok, dan terlebih lagi, aktivitas sel-sel tertentu yang terlibat dalam memori kekebalan tubuh terganggu.

Dengan kata lain, penelitian ini menunjukkan bahwa merokok tidak hanya mengganggu mekanisme kekebalan bawaan tetapi juga beberapa mekanisme kekebalan adaptif. “Perbandingan respons imun pada perokok dan mantan perokok menunjukkan bahwa respons peradangan kembali ke tingkat normal dengan cepat setelah berhenti merokok, sementara dampak terhadap imunitas adaptif bertahan selama 10 hingga 15 tahun,” berdasar pengamatan Darragh Duffy. “Ini adalah pertama kalinya kita bisa menunjukkan pengaruh jangka panjang merokok terhadap respons imun.”

Peneliti mengatakan, ini adalah penemuan besar yang menjelaskan dampak merokok terhadap kekebalan individu yang sehat dan juga, sebagai perbandingan, terhadap kekebalan individu yang menderita berbagai penyakit.

Temuan ini – yang untuk pertama kalinya mengungkap memori jangka panjang tentang efek merokok terhadap kekebalan tubuh – dipublikasikan di jurnal Nature. (BS)