Berandasehat.id – Bagi penderita penyakit autoimun artritis psoriasis (PsA), pasti tahu rasanya mengalami nyeri sendi juga masalah kulit. Namun masalah yang ditimbulkan oleh PsA ternyata tidak berhenti sampai di situ, karena penyakit autoimun ini juga dapat memengaruhi kesehatan dengan cara lain. Peradangan sama yang menyerang kulit dan persendian juga dapat menyebabkan masalah di bagian lain tubuh.

Perawatan PsA dapat membantu mencegah beberapa masalah ini. Namun cara terbaik untuk membantu menghentikan komplikasi adalah dengan tetap aktif, makan dengan benar, dan menjaga berat badan yang sehat.

Berikut daftar komplikasi PsA yang mungkin bisa terjadi pada penderitanya, dirangkum dari laman WebMD:

1. Diabetes

PsA meningkatkan peluang terkena diabetes tipe 2 lebih dari 40%. Diabetes tipe 2 biasanya terjadi karena tubuh tidak menggunakan insulin sebagaimana mestinya. Artinya, sel tubuh juga tidak dapat menggunakan gula, sehingga glukosa akan menumpuk di dalam darah. Ada beberapa alasan hal ini mungkin terjadi di PsA, salah satunya mungkin peradangan. Gaya hidup juga berperan besar terhadap diabetes tipe 2. Bagi orang yang tidak aktif atau tidak mengonsumsi makanan sehat, akan lebih sulit untuk menjaga gula darah berada pada kisaran normal.

2. Penyakit jantung

Penderita PsA lebih mungkin mengalami masalah jantung dibandingkan orang lain. Jika mengalami kelebihan berat badan atau menderita diabetes, risikonya menjadi lebih tinggi. Beberapa dokter meyakini hubungan antara PsA dan penyakit jantung adalah peradangan. Hal ini dapat menyebabkan timbunan lemak – disebut plak – menumpuk di dalam pembuluh darah. Hal ini membuat pembuluh darah menjadi lebih sempit, sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah. Terkadang plak pecah dan menyebabkan gumpalan. Hal ini dapat memicu serangan jantung atau stroke. Para peneliti masih mempelajari peran peradangan pada penyakit jantung.

3. Penyakit radang usus (IBD)

Ada dua jenis IBD: kolitis ulserativa dan penyakit Crohn. Keduanya menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Gejalanya sering kali berupa kram, nyeri, dan diare parah. Penderita IBD mungkin juga mengalami penurunan berat badan dan sering merasa lelah.

IBD dan artritis psoriasis memiliki ciri-ciri genetik tertentu yang membuat seseorang lebih mungkin menderita penyakit tersebut. Namun hubungan terbesar antara kedua kondisi tersebut adalah peradangan. Beberapa protein yang menyebabkan peradangan dan memicu PsA juga terlibat dalam IBD. Itu sebabnya obat-obatan tertentu, seperti penghambat TNF, dapat membantu kedua kondisi tersebut. Namun perlu diketahui bahwa obat PsA lain dapat menyebabkan IBD atau memperburuknya.

4. Spondilitis

Ini adalah jenis radang sendi yang menyebabkan peradangan pada tulang tulang belakang, yang menyebabkan nyeri dan kaku di punggung bagian bawah, tempat bertemunya tulang belakang dan panggul. Terkadang penderita mungkin mengalami peradangan pada persendian di bahu atau dada. Di mana pun lokasinya, gejala tersebut sering datang dan pergi. Misalnya, penderita PsA mungkin merasa kaku saat bangun tidur, namun merasa lebih baik setelah beraktivitas. Pada spondilitis parah, beberapa tulang di tulang belakang bisa menyatu – hal ini dapat membuat punggung sulit ditekuk. Dalam kasus yang parah, postur tubuh bisa bungkuk. Hal ini lebih sering terjadi pada penyakit lain namun terkait yang disebut ankylosing spondylitis. Olahraga dapat mengurangi rasa sakit dan kekakuan serta membantu postur.

5. Uveitis

PsA dapat menyebabkan banyak masalah mata. Uveitis adalah salah satu penyakit yang paling umum terjadi. Hal ini menyebabkan peradangan pada mata dengan gejala seperti nyeri, kemerahan, dan penglihatan kabur dapat muncul dengan cepat dan menyebabkan kehilangan penglihatan jika tidak selekasnya diatasi.

6. Gangguan suasana hati

Tidak mengherankan jika depresi sering terjadi pada penderita PsA. Penyakit ini tidak selalu mudah untuk dijalani. Namun ada alasan lain mengapa penderita PsA kerap merasa sedih. Protein yang sama yang memicu peradangan pada PsA juga menyebabkan perubahan pada otak. Perubahan ini dapat menyebabkan depresi dan gangguan mood lainnya. Bila kerap merasa sedih atau tidak menikmati hal-hal seperti biasanya, beri tahu dokter. Mereka mungkin menyarankan untuk berbicara dengan konselor atau terapis. (BS)