Berandasehat.id – Laporan mengenai gangguan sistem saraf yang jarang terjadi – sindrom Guillain-Barre – disinyalir ‘lebih sering terjadi daripada yang diperkirakan’ terjadi pada orang lanjut usia di AS yang mendapat vaksin RSV baru, menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang dirilis baru-baru ini.

Laporan serupa juga disampaikan oleh organisasi tersebut pada awal tahun ini. Namun demikian pejabat pemerintah masih mengatakan manfaat suntikan ini lebih besar daripada risikonya.

CDC dan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) tengah mengevaluasi risiko apa pun, namun tidak berencana mengubah rekomendasi mereka untuk suntikan RSV. Dalam hal ini pasien berusia 60 tahun ke atas harus berkonsultasi dengan dokter dan kemudian memutuskan apakah akan divaksinasi.

Lebih dari 10 juta lansia telah mendapatkan suntikan dosis tunggal Pfizer atau GSK sejak awal Agustus 2023 untuk melindungi mereka dari virus pernapasan, yang merupakan penyebab umum gejala mirip flu dan dapat berbahaya bagi bayi dan orang lanjut usia.

Pejabat kesehatan memperkirakan sekitar dua kasus sindrom Guillain-Barre di setiap 1 juta orang yang menerima vaksin RSV dalam waktu tiga minggu setelah mendapatkan suntikan.

Laporan CDC terbaru itu fokus pada 28 kasus sindrom Guillain-Barre pada orang yang divaksinasi, dan semuanya kecuali satu mengalami gejala dalam waktu 21 hari. Hal ini berarti 1,5 kasus per juta pada orang yang mendapat vaksin GSK RSV, dan lima kasus per juta pada penerima suntikan Pfizer.

Pejabat CDC memaparkan temuan serupa mengenai suntikan RSV dan sindrom Guillain-Barre pada pertemuan publik, Februari silam.

Diperkirakan 3.000 hingga 6.000 orang mengembangkan sindrom Guillain-Barre di AS setiap tahunnya—baik setelah terinfeksi virus atau terkait dengan vaksinasi—dan ini lebih sering terjadi pada orang lanjut usia, menurut CDC. Kebanyakan orang pulih sepenuhnya, namun beberapa mengalami kerusakan saraf permanen, demikian laporan AP. (BS)