Berandasehat.id – Banyak hal terkait indra perasa yang kita pelajari di sekolah ternyata ‘salah’. Adalah Josephine Egan, peneliti senior di Institut Nasional Penuaan di Institut Kesehatan Nasional, di Baltimore, telah melakukan penelitian seputar indra perasa dan menyampaikan temuan terbaru yang cukup mencengangkan.

Pada tahun 1901, ilmuwan Germain David Hanig melakukan penelitian untuk lebih memahami cara kerja indera perasa pada manusia. Sayangnya, hasilnya disalahartikan, dan salah tafsir tersebut digunakan dalam buku pelajaran biologi. Secara khusus, dilaporkan bahwa pengecap diatur berdasarkan jenis sensitivitas di lidah, yakni ujungnya terasa manis, bagian sampingnya terasa asin, dan bagian belakangnya terasa pahit, misalnya.

Sejak saat itu, kata Egan, para peneliti telah membuat banyak penemuan tentang indra perasa, lidah, dan sel-sel yang terlibat dalam merespons bahan kimia dalam makanan.

Dalam ulasan yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, Egan menyatakan bahwa para peneliti menemukan bahwa persepsi rasa jauh lebih rumit dari perkiraan sebelumnya. Sebagai contoh, dia menunjukkan bahwa sel-sel reseptor rasa tidak hanya terbatas pada mulut. Ada beberapa di otak, di beberapa otot, paru, tiroid dan pankreas, bahkan di hati.

Egan mengatakan, tentu saja, sel-sel lain ini tidak merespons dengan cara yang sama seperti sel-sel yang melapisi lidah, namun mereka bereaksi terhadap bahan kimia dalam makanan, dan sebagian besar dari sel-sel tersebut mengirimkan sinyal ke bagian tubuh lain, termasuk otak.

Salah satu contohnya adalah sel-sel yang melapisi usus, merespons keberadaan gula. Ketika terdeteksi, sinyal dikirim ke otak yang merespons dengan mengingatkan organ lain, menyiapkannya untuk membantu memproses nutrisi sehingga dapat digunakan oleh tubuh untuk rezeki dan energi.

Egan menyatakan bahwa indera perasa kita bukan sekadar cara untuk membantu kita menentukan mana yang enak dan mana yang tidak, tetapi juga membantu kita memilih makanan yang bergizi atau tidak. Ini juga membantu menghentikan kita memakan makanan yang berbahaya. Kebanyakan orang tahu, misalnya, jika makanan yang mereka cicipi rasanya ‘tidak enak’ sebaiknya mereka tidak memakannya, karena takut sakit.

Ia juga mengklaim bahwa respons manusia yang kuat terhadap makanan yang rasanya manis memiliki dasar biologis, yakni makanan manis cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk membahayakan kita dan juga menyediakan banyak kalori, yang dulunya dibutuhkan lebih banyak oleh manusia daripada sekarang.

Dia menyarankan masih banyak yang harus dipelajari tentang indra perasa manusia dan bagaimana hal itu berdampak pada kesejahteraan fisik dan emosional kita, demikian laporan Science x Network. (BS)