Berandasehat.id – Diabetes melitus dikaitkan dengan peningkatan risiko kecacatan dan komplikasi fatal, termasuk serangan jantung dan stroke. Menurut sebuah studi baru, orang dengan kondisi pradiabetes dapat secara signifikan menurunkan risiko kematian dan komplikasi dengan menunda timbulnya diabetes selama empat tahun.

Berdasarkan temuan penelitian terbaru, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Guangwei Li dari Rumah Sakit Persahabatan Tiongkok-Jepang di Kota Da Qing, Tiongkok, menyarankan bahwa orang yang memiliki gangguan toleransi glukosa (IGT) harus mempertimbangkan untuk melakukan intervensi gaya hidup seperti pengaturan pola makan dan olahraga untuk secara efektif menunda timbulnya diabetes.

“Dalam penelitian ini, kami mengamati bahwa mempertahankan status tidak diabetes selama beberapa tahun setelah diagnosis IGT dikaitkan dengan penurunan risiko kematian dan komplikasi vaskular jangka panjang yang signifikan,” kata peneliti dalam publikasi di jurnal Plos Medicine.

Untuk sebagian besar hasil ini, mempertahankan setidaknya 4 tahun status tidak diabetes. mungkin diperlukan untuk mencapai pengurangan risiko yang signifikan.

Para peneliti mengamati 540 orang pradiabetes yang merupakan bagian dari Studi Pencegahan Diabetes Da Qing, sebuah uji coba enam tahun yang dilakukan di Kota Da Qing di Tiongkok.

Cek gula darah (dok. ist)

Selama uji coba, para peserta dibagi menjadi empat kelompok. Satu kelompok berfokus pada menjaga pola makan sehat, kelompok lain meningkatkan aktivitas fisik, kelompok ketiga menggabungkan kedua pendekatan tersebut, dan kelompok kontrol.

Selama masa tindak lanjut lebih dari 30 tahun, para peneliti mengamati bahwa mereka yang berhasil menunda timbulnya diabetes setidaknya selama empat tahun setelah diagnosis awal pradiabetes memiliki penurunan risiko kematian atau kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung atau stroke.

Sebaliknya, efek perlindungan ini tidak diamati pada individu yang berkembang menjadi diabetes dalam waktu kurang dari empat tahun, menurut para peneliti.

Studi ini menunjukkan bahwa durasi status tidak diabetes yang lebih lama pada penderita gangguan toleransi glukosa mempunyai manfaat kesehatan dan mengurangi angka kematian.

Penerapan intervensi efektif yang menyasar penderita gangguan toleransi glukosa harus dipertimbangkan sebagai bagian dari manajemen pencegahan diabetes dan komplikasi vaskular terkait diabetes, simpul peneliti.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan, termasuk jumlah peserta yang kecil dan fokusnya secara eksklusif pada individu etnis Tionghoa. (BS)