Berandasehat.id – Perkiraan menunjukkan bahwa 13% populasi dunia hidup dengan beberapa jenis kondisi kesehatan mental, dan beban perekonomian global diperkirakan akan meningkat menjadi US$6 triliun pada tahun 2030.
Penyebab kondisi tersebut kompleks dan beragam, termasuk sejumlah faktor biologis, sosioekonomi, dan psikologis, namun terdapat banyak bukti bahwa lingkungan alami, buatan, dan sosial seseorang berkaitan dengan kesehatan mental.
Studi terkini menemukan, anak yang hidup berpindah-pindah sebelum usia 15 tahun memiliki kemungkinan 40% lebih besar untuk didiagnosis menderita depresi di kemudian hari. Penelitian yang diterbitkan di jurnal JAMA Psychiatry menganalisis seluruh lokasi pemukiman hampir 1,1 juta orang yang lahir di Denmark antara tahun 1981 hingga 2001 dan tinggal di negara tersebut selama 15 tahun pertama kehidupan mereka.
Penelitian ini kemudian melacak orang-orang yang sama hingga dewasa, dan menemukan setidaknya 35.000 dari mereka yang masih tinggal di Denmark kemudian menerima diagnosis medis depresi.
Sebagai bagian dari analisis terperinci, penelitian ini mendukung bukti yang ada dengan menunjukkan bahwa individu yang tinggal di lingkungan yang kekurangan pendapatan selama masa kanak-kanak, lebih mungkin – dengan faktor sekitar 10% – mengalami depresi di masa dewasa.
Namun, penelitian ini untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa pengalaman berpindah-pindah selama masa kanak-kanak, baik di antara lingkungan yang kekurangan atau tidak kekurangan, juga dikaitkan dengan tingkat depresi yang jauh lebih tinggi di usia dewasa.

Secara khusus, anak-anak yang sering berpindah-pindah antara usia 10 hingga 15 tahun memiliki kemungkinan 41% lebih besar untuk didiagnosis menderita depresi dibandingkan mereka yang tidak berpindah-pindah.
Dan jika seorang anak berpindah dua kali atau lebih antara usia 10 hingga 15 tahun, risikonya meningkat menjadi sekitar 61%. Hal ini memberikan dampak yang lebih kuat dibandingkan tumbuh di lingkungan yang miskin.
Hasil studi membuat para peneliti di balik penelitian ini menyarankan bahwa lingkungan rumah yang tenang – dalam hal lokasi – selama masa kanak-kanak mungkin menjadi salah satu cara untuk melindungi diri dari masalah kesehatan mental di masa depan.
Studi tersebut dilakukan oleh peneliti dari Aarhus University (Denmark), University of Plymouth (UK) dan University of Manchester (UK).
Profesor Clive Sabel, Profesor Big Data dan Ilmu Spasial di Universitas Plymouth dan mantan Direktur Pusat Big Data untuk Lingkungan dan Kesehatan di Universitas Aarhus, adalah penulis utama studi ini.
“Kami tahu ada sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang didiagnosis mengidap penyakit mental. Namun, ini adalah bukti pertama yang menunjukkan bahwa pindah ke lingkungan baru saat masa kanak-kanak adalah salah satu faktornya, dan kami yakin jumlah yang kita lihat mungkin merupakan puncak gunung es,” terang Profesor Sabel.
Selama tahun-tahun pertumbuhan tersebut, anak-anak membangun jaringan sosial mereka melalui sekolah, kelompok olahraga, atau aktivitas lainnya. “Setiap kali mereka harus beradaptasi dengan sesuatu yang baru, hal ini dapat mengganggu, jadi kita mungkin perlu menemukan cara baru untuk membantu masyarakat mengatasi tantangan tersebut,” tuturnya.
Penelitian yang ada di seluruh dunia menemukan bahwa anak-anak yang lebih sering berpindah-pindah sejak lahir hingga usia remaja, lebih besar kemungkinannya mengalami dampak buruk, termasuk percobaan bunuh diri, kriminalitas dengan kekerasan, penyakit mental, dan penyalahgunaan narkoba.
Meski fokusnya adalah pada sebagian besar penduduk Denmark, para penulis penelitian mengatakan mereka berharap mendapatkan hasil serupa di banyak belahan dunia. (BS)