Berandasehat.id – Media sosial ibarat pedang bermata dua, bisa memberi dampak positif atau sebaliknya. Di medsos, kita kerap menyaksikan orang-orang mengunggah kesuksesan mereka, memamerkan pencapaian. Tak jarang, kesuksesan orang lain itu membuat kita berkecil hati dan merasa diri tak sebanding dengan orang-orang itu.

Pencapaian orang lain di medsos itu membuat kita berpikir betapa mudahnya kesuksesan diraih. padahal, sejatinya belum tentu demikian. Hal ini mungkin terjadi karena media sosial hanya menunjukkan kepada kita kesuksesan yang terlihat di permukaan saja, seperti seekor bebek yang meluncur dengan mulus di atas air, sementara perjuangan sebenarnya untuk tetap bertahan tetap tersembunyi.

Sebuah studi di Evolutionary Human Sciences mengeksplorasi fenomena yang disebut sebagai ‘sindrom bebek mengambang’ oleh Universitas Stanford. Dalam studinya para peneliti menemukan bahwa tekanan untuk hanya menampilkan keberhasilan dan menutupi upaya yang dilakukan justru memutarbalikkan kenyataan, menyebabkan orang lain salah menilai sulitnya pencapaian dan mengharapkan imbalan yang lebih besar atas upaya mereka daripada yang mereka terima.

“Kami menemukan bahwa tidak mengungkapkan jumlah upaya (yang telah dilakukan) yang sebenarnya akan menghasilkan dinamika pembelajaran sosial yang menyebabkan orang lain meremehkan kesulitan yang ada,” kata Erol Akçay, penulis studi dari University of Pennsylvania.

Hal ini pada gilirannya menyebabkan individu menginvestasikan terlalu banyak upaya total dan menyebarkan upaya ini ke terlalu banyak aktivitas, sehingga mengurangi jumlah upaya yang dilakukan untuk tingkat keberhasilan dari setiap aktivitas dan menciptakan ketidakseimbangan upaya dan imbalan.

Para peneliti percaya bahwa temuan mereka menawarkan penjelasan baru mengapa komitmen berlebihan dan kelelahan terjadi di universitas, tempat kerja, dan rumah.

Akcay mengatakan, temuan ini penting mengingat kehidupan modern terus-menerus meminta kita untuk memutuskan bagaimana membagi waktu dan energi kita di berbagai bidang kehidupan, termasuk sekolah, pekerjaan, keluarga, dan waktu luang.

“Bagaimana kita mengalokasikan waktu dan energi kita di antara bidang-bidang ini, berapa banyak bidang yang berbeda, aktivitas yang kita lakukan di setiap bidang, dan apa imbalan yang dihasilkan, memiliki dampak besar pada kesehatan mental dan fisik kita,” imbuh Akçay.

Analisis tersebut juga menunjukkan bahwa meskipun orang-orang dapat mencapai lebih banyak keberhasilan secara keseluruhan dengan peningkatan upaya, tingkat keberhasilan setiap upaya itu menurun karena mereka melakukan terlalu banyak aktivitas.

Kesalahpahaman mengenai besarnya upaya yang dilakukan rekan-rekan mereka untuk mencapai kesuksesan menyebabkan individu menginvestasikan terlalu banyak total upaya, dan pada saat yang sama membaginya ke dalam terlalu banyak aktivitas yang berbeda, sebut Akcay.

Penelitiannya menemukan bahwa hal ini memang dapat menghasilkan lebih banyak kesuksesan, namun dengan mengorbankan biaya pengurangan utilitas secara keseluruhan serta ketidaksesuaian antara imbalan yang diharapkan dan realisasi.

Para peneliti juga mencari cara untuk mengatasi komitmen berlebihan dan kelelahan yang disebabkan oleh sindrom bebek mengambang. Mereka berpendapat bahwa perbaikan jangka pendek, seperti mempermudah tugas atau kualifikasi, mungkin tidak efektif. Sebaliknya, untuk mengatasi masalah ini diperlukan penanganan masalah yang lebih mendalam.

“Sindrom bebek mengambang sering kali diperburuk oleh platform media sosial dan hubungan masyarakat institusional, yang menjadikan kesuksesan lebih terlihat namun kegagalan atau upaya yang dikeluarkan untuk mencapai kesuksesan tidak disampaikan,” tandas Akçay dilaporkan Medical Daily. (BS)