Berandasehat.id – Perubahan pola makan dan gaya hidup, disertai pengobatan yang tepat, adalah cara yang diresepkan untuk mengurangi gejala sindrom ovarium polikistik (PCOS). Sebuah studi baru menunjukkan bahwa mengikuti diet keto dapat meningkatkan kesuburan, membantu penurunan berat badan, dan mengurangi kadar testosteron pada pasien PCOS.
PCOS merupakan kondisi hormonal umum yang menyebabkan infertilitas/kemandulan pada wanita. Pada PCOS, ovarium memproduksi androgen dalam jumlah berlebihan. Androgen merupakan jenis hormon seks pria yang biasanya ditemukan dalam jumlah kecil pada wanita.
Nama PCOS berasal dari beberapa kista yang terbentuk di ovarium saat ovulasi gagal terjadi. Kista ini menghasilkan androgen dalam kadar tinggi, yang mengganggu siklus menstruasi. Namun, tidak semua wanita dengan PCOS dapat mengembangkan kista.
PCOS juga dapat terjadi karena resistensi insulin, suatu kondisi di mana tubuh tidak memproses insulin dengan benar, yang mengakibatkan produksi androgen berlebih.
Penambahan berat badan, rambut berlebihan, kebotakan pola pria, skin tag, ovarium membesar, dan menstruasi yang terlambat adalah beberapa tanda PCOS.
Selain infertilitas, PCOS dapat menyebabkan komplikasi seperti diabetes, hipertensi, masalah pada jantung dan pembuluh darah, serta kanker rahim.

Meskipun uji klinis telah menyelidiki hubungan antara diet keto dan PCOS, studi terbaru ini merupakan yang pertama kali melakukan tinjauan sistematis tentang bagaimana diet tersebut mempengaruhi kadar hormon.
“Kami memutuskan untuk mengumpulkan semua bukti yang tersedia dan mensintesiskan temuan untuk mendapatkan kesimpulan yang kuat dan mempengaruhi situasi klinis,” kata Dr. Karniza Khalid, penulis utama studi.
Para peneliti mengevaluasi data dari tujuh uji klinis dan menemukan peningkatan signifikan dalam penurunan berat badan, kesuburan, dan kadar testosteron pada wanita yang mengikuti diet ketogenik selama setidaknya 45 hari.
“PCOS adalah kondisi hormonal yang kompleks — hiperandrogenisme dan sensitivitas insulin yang berkurang menjadi ciri khas endokrinologi,” ujar Dr. Khalid.
Induksi ketosis fisiologis dari diet keto akan mengurangi kadar insulin yang beredar dan IGF-1, yang selanjutnya menekan rangsangan untuk produksi androgen adrenal dan ovarium, sehingga membatasi kadar androgen bebas yang beredar dalam darah, lanjutnya.
Perlu dicatat, diet keto mungkin tidak cocok untuk semua orang, terutama bagi wanita hamil, orang dengan gangguan makan dan masalah yang mempengaruhi hati, pankreas, tiroid, dan kantong empedu.
“Beberapa parameter harus diperhitungkan saat merencanakan: usia, BMI dasar, jenis kelamin, status kesehatan dasar — (adanya) gangguan ginjal dan hati — dan kesehatan usus,” kata Dr. Khalid.
Tim ahli percaya bahwa temuan ini akan membantu ahli endokrinologi, ginekolog, dan ahli diet untuk merencanakan dan menyesuaikan rekomendasi diet individual dengan cermat bagi wanita dengan PCOS.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of Endocrine Society. (BS)