Berandasehat.id – Pernah dengar istilah otak popcorn? Istilah otak popcorn berasal dari kondisi pikiran yang terus-menerus cepat berlalu, di mana pikiran ‘melompat’ dari satu ke yang lain seperti meletuskan biji popcorn.

Pikiran yang tidak fokus/mudah teralih itu mengganggu fokus dan konsentrasi, yang menyebabkan berkurangnya produktivitas dan kesulitan menyelesaikan tugas. Otak popcorn juga dikaitkan dengan kurangnya kejernihan mental.

Otak popcorn juga kerap dikaitkan dengan menghabiskan waktu yang berlebihan di depan layar.

Penelitian menunjukkan bahwa rentang perhatian orang telah menurun secara signifikan selama beberapa dekade terakhir karena penggunaan internet dan perangkat digital yang berlebihan.

Penggunaan perangkat digital yang berlebihan, melakukan banyak tugas, dan kecepatan hidup modern dapat membebani otak. Kurang istirahat dan kurang tidur dapat memperburuk kondisi ini.

Waktu layar yang berlebihan dapat mempengaruhi perkembangan otak yang sehat pada anak-anak dan remaja dan dapat mempengaruhi perhatian, perkembangan bahasa, dan keterampilan fungsi eksekutif mereka, menurut Natalie Rosado, konselor kesehatan mental berlisensi dan pendiri Tampa Counseling Place, Florida kepada Medical Daily.

Selain dampaknya terhadap kesehatan otak, penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat mengganggu pola tidur, yang dapat mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesejahteraan mental.

Rosado menyampaikan, waktu menonton layar, terutama sebelum tidur, dapat mengganggu pola tidur karena cahaya biru yang dipancarkan oleh layar, yang menekan produksi melatonin, hormon yang bertanggung jawab untuk tidur.

Banyak orang mungkin menonton video atau menggunakan perangkat digital sebagai sarana untuk melarikan diri dari kenyataan dan menghindari masalah. Meskipun waktu menonton layar tampaknya memberikan kelegaan sementara, namun hal itu dapat mencegah individu mengatasi masalah mereka yang sebenarnya secara efektif, yang menyebabkan peningkatan tekanan dalam jangka panjang.

Paparan konstan terhadap gambar-gambar yang diidealkan dan kehidupan yang dikurasi dapat menyebabkan perasaan tidak mampu dan harga diri yang rendah, terutama di kalangan anak muda, yang meningkatkan risiko depresi dan kecemasan, lanjut Rosado.

Menghabiskan waktu yang berlebihan secara online dapat menggantikan interaksi tatap muka, yang menyebabkan perasaan kesepian dan keterpisahan dari hubungan di dunia nyata,.

Untuk membatasi waktu menggunakan layar lakukan sejumlah hal, di antaranya gunakan aplikasi pelacak waktu pemakaian layar untuk membantu kita menjadi lebih sadar akan kebiasaan dan mengidentifikasi area yang dapat dikurangi.

Selanjutnya batasi notifikasi untuk membantu tetap fokus pada tugas dan mengurangi godaan untuk menggunakan layar secara tidak perlu.

Selain itu, temukan bentuk hiburan alternatif yang tidak melibatkan layar, seperti permainan papan, teka-teki, kerajinan, atau aktivitas fisik.

Sedangkan untuk meningkatkan fokus dan konsentrasi, tetapkan rutinitas yang konsisten membantu melatih otak untuk tetap waspada selama waktu-waktu yang ditentukan ini. Bagi tugas menjadi beberapa bagian yang dapat dikelola, menetapkan tujuan yang spesifik dan dapat dicapai untuk setiap tugas atau sesi belajar.

Menerapkan teknik manajemen waktu seperti Teknik Pomodoro, yang melibatkan interval kerja yang terfokus diikuti dengan istirahat pendek, membantu menjaga produktivitas dan mencegah kelelahan mental. (BS)