Berandasehat.id – Didiagnosis diabetes tipe 2 sebelum usia 30 tahun berpotensi mengurangi harapan hidup sekitar 14 tahun, menurut studi terbaru. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa diabetes dapat mengurangi harapan hidup rata-rata enam tahun.
Tim peneliti di balik studi terbaru ini memiliki tujuan memberikan perkiraan akurat tentang bagaimana usia diagnosis diabetes mempengaruhi harapan hidup dan berbagai aspek mortalitas.
Menurut temuan yang diterbitkan di The Lancet Diabetes and Endocrinology, setiap dekade (10 tahun) diagnosis dini diabetes dikaitkan dengan sekitar tiga hingga empat tahun harapan hidup yang lebih rendah.
Bahkan ketika seseorang terkena diabetes di kemudian hari, sekitar usia 50 tahun, hal itu masih dapat mengurangi harapan hidup hingga enam tahun.
Data dari dua sumber data skala besar – Emerging Risk Factors Collaboration dan UK Biobank, yang memiliki informasi tentang peserta dari 19 negara berpenghasilan tinggi – digunakan untuk penelitian ini.
Dengan menggunakan angka kematian di AS, seorang penderita diabetes berusia 50 tahun meninggal rata-rata 14 tahun lebih awal saat didiagnosis pada usia 30 tahun; 10 tahun lebih awal saat didiagnosis pada usia 40 tahun, atau 6 tahun lebih awal saat didiagnosis pada usia 50 tahun dibandingkan dengan seseorang tanpa diabetes, menurut hasil studi.

Profesor Emanuele Di Angelantonio, penulis studi dari Victor Phillip Dahdaleh Heart and Lung Research Institute (VPD-HLRI) di Universitas Cambridge mengatakan diabetes tipe 2 dulunya dianggap sebagai penyakit yang menyerang orang dewasa yang lebih tua, tetapi kini semakin banyak orang yang didiagnosis pada usia lebih muda.
“Seperti hasil studi yang kami lakukan, ini berarti mereka (yang terdiagnosis diabetes) berisiko memiliki harapan hidup yang jauh lebih pendek daripada yang seharusnya,” kata Profesor Emanuele Di Angelantonio.
Penyebab kematian utama
Kematian akibat serangan jantung, stroke, aneurisma, dan kanker merupakan penyebab paling umum yang mengurangi umur panjang pada pasien diabetes.
Mengingat dampak diabetes tipe 2 terhadap kehidupan manusia, maka pencegahan – atau setidaknya menunda timbulnya kondisi tersebut harus menjadi prioritas yang mendesak.
Diabetes tipe 2 dapat dicegah jika mereka yang paling berisiko dapat diidentifikasi dan diberi dukungan, baik itu dengan mengubah perilaku mereka atau memberikan pengobatan untuk menurunkan risiko.
Namun, ada juga perubahan struktural yang harus dilakukan sebagai masyarakat, termasuk yang berkaitan dengan produksi makanan, perubahan lingkungan binaan untuk mendorong lebih banyak aktivitas fisik, dan sebagainya.
Rekan penulis studi Profesor Naveed Sattar, dari Institut Ilmu Kardiovaskular dan Kedokteran, Universitas Glasgow menambahkan, temuan itu mendukung gagasan bahwa semakin muda seseorang saat mereka mengembangkan diabetes tipe 2, semakin banyak kerusakan yang terakumulasi dalam tubuh mereka akibat metabolisme yang terganggu.
Namun, temuan tersebut juga menunjukkan bahwa deteksi dini diabetes melalui skrining yang diikuti dengan manajemen glukosa intensif dapat membantu mencegah komplikasi jangka panjang dari kondisi tersebut, tandasnya. (BS)