Berandasehat.id – PCOS (polycystic ovary syndrome/sindrom ovarium polikistik) merupakan salah satu penyulit kehamilan yang bisa muncul sejak remaja.
Menurut dr. Mila Maidarti Sp.OG Subs F.E.R PhD, PCOS mempengaruhi sekitar 3-11% remaja perempuan. Prevalensi yang bervariasi tergantung pada usia, etnisitas, serta kriteria diagnosis yang digunakan.
“Kasus PCOS terus meningkat, di mana dari tahun 1990 hingga 2019, jumlah penderita PCOS bertambah sebanyak 32 juta. Pada tahun 1990, wilayah Pasifik Barat tercatat memiliki insiden PCOS tertinggi, namun pada tahun 2019, Asia Tenggara menjadi kawasan dengan jumlah kasus tertinggi,” ujar dr. Mila di acara temu media ‘Peran Penanganan PCOS dalam Meningkatkan Fertilitas’ yang digelar RS Pondok Indah Group di Jakarta, baru-baru ini.
Lebih lanjut dr. Mila menyebut, jumlah kasus PCOS paling banyak ditemukan pada kelompok usia 10-19 tahun, dan ada perubahan signifikan dalam puncak insiden yang awalnya terjadi pada usia 20-24 tahun pada tahun 1990. “Selanjutnya bergeser ke usia 25-29 tahun pada 2019,” ujarnya.

Dalam makalahnya, dr. Mila menyebut gelombang kedua pandemi COVID-19 di India turut berdampak pada meningkatnya kasus siklus menstruasi yang tidak teratur, terutama pada gadis-gadis muda.
Pandemi tersebut memicu perubahan pada pola kesehatan reproduksi, menambah tantangan bagi remaja perempuan yang berjuang mengatasi PCOS di tengah situasi sulit.
Tanda dan Gejala PCOS
Ada sejumlah tanda dan gejala yang dikenali pada wanita yang mengidap PCOS, di antaranya siklus haid tidak teratur, kenaikan berat badan, perubahan jumlah darah menstruasi – sering kali jadi lebih sedikit (hanya berupa flek) – serta pertumbuhan berlebih rambut di tubuh dan wajah, seperti kumis tipis dan jambang, dan berjerawat.
Pertumbuhan rambut berlebih pada wanita itu terjadi karena peningkatan kadar hormon androgen, yang ditandai dengan beberapa gejala hiperandrogen.
Wanita dengan PCOS juga bisa mengalami kenaikan berat badan yang sulit dikendalikan dan rambut yang menipis atau rontok di kepala.
Selain itu, PCOS sering kali disertai dengan siklus anovulasi. Dalam hal ini ovarium tidak melepaskan sel telur secara teratur, yang berdampak pada kesuburan dan menyulitkan wanita untuk hamil.
Remaja yang mengalami PCOS juga bisa memunculkan gejala pada kulit di antaranya muncul penggelapan dan penebalan kulit – kerap disebut dengan istilah uga bisa muncul, seperti Acanthosis nigricans – terutama di area leher, ketiak, atau lipatan tubuh lainnya.
Lebih lanjut dr. Mila mengungkap, gangguan metabolik pada perempuan dengan PCOS sangat terkait dengan resistensi insulin, terutama pada mereka yang juga mengalami obesitas.
Perlu diketahui, sekira 70-80% wanita yang memiliki PCOS dan obesitas mengalami resistensi insulin. Sedangkan wanita dengan PCOS tanpa obesitas, sekitar 20-25% juga menghadapi masalah yang sama.
Resistensi insulin ini mempengaruhi berbagai aspek dalam tubuh, termasuk produksi hormon. Insulin tidak hanya mengatur gula darah, tetapi juga memperkuat aksi hormon luteinizing (LH).
Keduanya bekerja bersama untuk merangsang produksi androgen, yaitu hormon yang meningkat pada perempuan dengan PCOS.
Menurut dr. Mila, konsekuensi lainnya adalah resistensi insulinnya akan meningkatkan LH yang tinggi. “LH dalam sel telur kerjanya di tempat yang dapat memproduksi androgen yang tinggi, maka hormon laki-laki yang seharusnya rendah pada perempuan jadi naik seperti timbul rambut lebat dan jerawat, juga rambut rontok,” ujarnya.

Lebih lanjut dr. Mila menerangkan, apabila resistensi insulin tidak terperbaiki, terjadi diabetes. “Jadi seperti lingkaran setan terus saja berputar. Konsekuensinya kalau terjadi resistensi insulin jadi diabetes, obesitas, sindroma metabolik, tekanan darah tinggi, serta kolesterolnya juga tinggi,” tuturnya.
Pengelolaan PCOS pada remaja
Gangguan siklus haid yang terjadi sejak remaja harus diperbaiki dengan gaya hidup sehat. Langkah awal yang penting adalah menerapkan pola hidup sehat yang mencakup berbagai aspek. “Jika remaja gemuk, maka perlu menurunkan berat badan. Menjaga pola makan yang seimbang dengan memperhatikan asupan nutrisi yang tepat untuk mendukung keseimbangan hormon dalam tubuh,” kata dr. Mila.
PCOS tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, namun bisa dikelola dengan penurunan berat badan, diet sehat, olahraga, serta obat-obatan.
Penderita PCOS juga disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter yang mungkin akan memberikan obat untuk mengatur hormon atau siklus menstruasi, serta menangani gejala seperti jerawat atau pertumbuhan rambut berlebih. (BS)