Berandasehat.id – Apa yang dimakan ibu selama kehamilan dan di masa menyusui dapat mempengaruhi kesehatan anak. Di masa krusial ini, ibu sebaiknya hati-hati dalam konsumsi makanan/minuman karena memiliki dampak terhadap kesehatan janin/bayi.
Sebuah studi baru telah mengungkap hubungan antara konsumsi soda diet atau minuman pemanis buatan oleh ibu selama kehamilan atau menyusui dan diagnosis autisme pada putra mereka.
Aspartam adalah pemanis bukan gula yang banyak digunakan dalam beberapa minuman diet, es krim, produk susu, sereal sarapan, pasta gigi, dan obat batuk.
Asupan harian aspartam yang dapat diterima adalah 50 miligram per kilogram berat badan, menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).
Meskipun sangat populer sebagai alternatif gula tanpa kalori, keamanan aspartam telah diperdebatkan selama bertahun-tahun.
WHO mengeluarkan pedoman pada Mei silam, yang menyarankan orang untuk menghindari aspartam untuk pengendalian berat badan karena lembaga itu menemukan bahwa mengganti gula dengan aspartam mungkin tidak membantu menurunkan berat badan dalam jangka panjang.
Badan penelitian kanker WHO, IARC (Badan Internasional untuk Penelitian Kanker), melabelinya sebagai ‘mungkin karsinogenik bagi manusia’.

Dalam studi terbaru, para peneliti dari University of Texas Health Science Center di San Antonio mengevaluasi konsumsi aspartam ibu dan risiko autisme pada keturunan yang terpapar aspartam di awal kehidupan — di dalam rahim dan selama menyusui.
Studi tersebut tidak membuktikan bahwa minum soda diet menyebabkan autisme pada anak-anak. “Studi kami tidak membuktikan kausalitas (hubungan langsung) — tidak membuktikan bahwa asupan soda diet ibu, dan khususnya aspartam, selama kehamilan atau menyusui meningkatkan risiko autisme pada anak — tetapi hal itu menimbulkan tanda peringatan utama,” kata Sharon Parten Fowler, penulis utama studi.
Gangguan spektrum autisme (ASD) atau autisme adalah gangguan neurologis dan perkembangan yang mempengaruhi pembelajaran, perilaku, dan interaksi.
Gangguan ini sering disebut gangguan perkembangan karena anak-anak sering didiagnosis dengan ASD dalam dua tahun pertama kehidupan mereka.
Tim peneliti menganalisis 235 anak yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme dan membandingkan data tersebut dengan 121 anak yang memiliki ‘perkembangan neurologis yang khas’.
Untuk menentukan paparan awal kehidupan peserta, para peneliti menggunakan kuesioner untuk mengevaluasi seberapa sering para ibu mengonsumsi soda diet atau minuman sejenisnya.
Anak laki-laki dengan autisme lebih dari tiga kali lebih mungkin memiliki ibu yang mengonsumsi setidaknya satu atau lebih porsi soda diet atau produk pemanis aspartam yang setara setiap hari selama kehamilan atau menyusui.
Para peneliti tidak dapat menemukan hubungan yang signifikan secara statistik pada anak perempuan.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients itu berkontribusi pada literatur yang berkembang yang mengangkat kekhawatiran tentang potensi bahaya keturunan dari soda/minuman diet ibu atau asupan aspartam selama kehamilan. (BS)