Berandasehat.id – Puasa intermiten, pola makan yang sangat populer yang dianjurkan oleh banyak orang untuk menurunkan berat badan dan manfaat kesehatan lainnya, telah menjadi fokus uji coba skala besar baru-baru ini.
Peneliti dari King’s College London menemukan bahwa membatasi makan hingga 10 jam dalam sehari mengurangi rasa lapar dan meningkatkan suasana hati dan energi.
Hasil uji coba tersebut dipresentasikan pada Konferensi Nutrisi Eropa di Belgrade.
Puasa intermiten melibatkan periode puasa dan makan secara bergantian, yang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu metode yang populer adalah makan dengan batasan waktu (16/8 atau 14/10), di mana asupan makanan harian dibatasi untuk jangka waktu tertentu, dan berpuasa selama jam-jam yang tersisa.
Metode 16/8 adalah ketika seseorang berpuasa selama 16 jam dan makan selama jangka waktu 8 jam. Sedangkan metode 14/10 adalah ketika seseorang berpuasa selama 14 jam dan makan selama jangka waktu 10 jam.
Metode lainnya adalah puasa berselang-seling, puasa dua kali seminggu, dan puasa 24 jam seminggu sekali.
Peneliti melakukan uji coba pada 37.545 peserta yang menggunakan aplikasi kesehatan ZOE. Selama uji coba tiga minggu, para peserta diminta untuk makan seperti biasa pada minggu pertama, lalu membatasi makan selama 10 jam dalam dua minggu berikutnya.
Setelah masa uji coba, 36.231 peserta memilih untuk mengikuti minggu tambahan. Dari total peserta, 27.371 pengguna tergolong sangat aktif dan 78% di antaranya adalah perempuan.
Para peneliti mengamati manfaat yang lebih besar pada mereka yang memiliki waktu makan lebih lama bahkan sebelum uji coba.

“Ini adalah studi terbesar di luar klinik yang dikontrol ketat untuk menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat meningkatkan kesehatan dalam kehidupan nyata,” kata Dr. Sarah Berry, penulis studi.
Berry menambahkan, hal yang benar-benar menarik adalah bahwa temuan tersebut menunjukkan bahwa pelaku puasa tidak perlu terlalu membatasi diri untuk melihat hasil positif. “Dalam hal ini jendela makan sepuluh jam, yang dapat dikelola oleh kebanyakan orang, dan meningkatkan suasana hati, tingkat energi, dan rasa lapar,” terangnya.
Orang-orang yang konsisten dengan jendela makannya memiliki manfaat yang lebih besar, dibandingkan dengan mereka yang mengubahnya setiap hari.
“Kami menemukan untuk pertama kalinya bahwa mereka yang mempraktikkan makan terbatas waktu tetapi tidak konsisten setiap hari, tidak memiliki efek kesehatan positif yang sama seperti mereka yang berdedikasi setiap hari,” kata Berry.
Kate Bermingham, rekan peneliti, menambahkan studi ini menambah bukti yang semakin banyak yang menunjukkan pentingnya cara kita makan.
“Dampak kesehatan dari makanan bukan hanya apa yang kita makan, tetapi juga waktu saat kita memilih untuk mengonsumsi makanan, dan jendela makan merupakan perilaku diet penting yang dapat bermanfaat bagi kesehatan,” tutur Bermingham.
Dia lebih lanjut mengungkap, temuan menunjukkan bahwa kita tidak perlu makan sepanjang waktu. “Banyak orang akan merasa kenyang dan bahkan menurunkan berat badan jika mereka membatasi makanan mereka dalam jendela sepuluh jam,” tandas Bermingham. (BS)