Berandasehat.id – Banyak yang memuji manfaat puasa intermiten, dan hanya sedikit yang membicarakan sisi negatifnya. Popularitas teknik diet ini di media sosial telah membuat diskusi tentang sisi negatifnya menjadi mustahil. Namun, ada bukti yang berkembang bahwa puasa intermiten tidak sesehat yang diperkirakan sebelumnya.

Sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan menambah kredibilitas klaim bahwa diet tersebut mempengaruhi tubuh secara negatif dalam jangka panjang.

Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Immunity, diet tersebut dapat merusak respons imun tubuh dengan menyebabkan sel darah putih tertentu menjadi tidak aktif.

Riset dilakukan oleh para peneliti dan profesional medis dalam kesehatan kardiovaskular di Icahn School of Medicine di Mount Sinai Hospital dan Harvard Medical School.

Dengan menggunakan model tikus, para ilmuwan mengidentifikasi perubahan yang disebabkan oleh puasa dalam migrasi leukosit yang mempengaruhi umur monosit dan mengubah kerentanan penyakit. Perubahan tersebut membuat tikus rentan terhadap infeksi.

Para peneliti melakukan studi tersebut karena mereka ingin memiliki pemahaman yang mendalam tentang efek jangka panjang dari puasa kronis. Mereka berusaha mencari tahu apakah puasa selama 4 jam atau 24 jam dapat berdampak pada sistem kekebalan tubuh.

Untuk melakukannya, tim peneliti membagi tikus menjadi dua kelompok. Satu kelompok makan sarapan segera setelah bangun tidur, sementara kelompok lainnya tidak makan apa pun selama periode tertentu. Sampel darah diambil pada interval yang berbeda dan diperiksa.

Tim menemukan perbedaan yang signifikan pada sel darah putih yang ada di kedua kelompok. Kelompok yang berpuasa memiliki lebih sedikit sel darah putih karena monosit dari darah kembali ke sumsum tulang. Saat berada di dalam darah, monosit membantu melawan infeksi dan penyakit.

Apa yang ditemukan para ilmuwan cukup mengganggu. Sekitar 90% monosit menghilang dari aliran darah tikus. Jumlahnya meningkat dalam periode puasa yang diperpanjang. Monosit berhibernasi dan hanya keluar saat makanan ‘diperkenalkan kembali’ setelah 24 jam.

Setelah kelompok yang berpuasa makan, sel-sel kembali ke aliran darah setelah tidak aktif. Namun, mereka tidak lagi sama. Monosit itu telah meradang dan tidak lagi efisien dalam melindungi terhadap infeksi.

“Ada kesadaran yang berkembang bahwa puasa itu sehat, dan memang ada banyak bukti untuk manfaat puasa. Studi kami memberikan peringatan karena menunjukkan bahwa mungkin ada juga ‘ongkos’ puasa yang membawa risiko kesehatan,” kata penulis utama Filip Swirski.

Studi ini menunjukkan bahwa ada ‘percakapan’ antara sistem saraf dan kekebalan tubuh. “Karena sel-sel ini sangat penting untuk penyakit lain seperti penyakit jantung atau kanker, memahami bagaimana fungsinya dikendalikan sangat penting,” direktur Institut Penelitian Kardiovaskular di Icahn School of Medicine di Mount Sinai.

Sebelumnya, studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Appetite oleh Texas A&M University melaporkan hubungan mengejutkan yang menghubungkan puasa intermiten dengan makan berlebihan dan gangguan makanan lainnya. Temuan tersebut menambah kepercayaan pada bukti yang berkembang terhadap puasa intermiten. (BS)