Berandasehat.id – Salah satu penyulit kehamilan adalah kualitas sperma yang kurang baik. Kabar baiknya, sperma yang kualitasnya kurang baik dapat ditingkatkan. Namun ha itu butuh waktu dan tidak dilakukan dalam hitungan hari.
Menurut dr. William, Sp. And, sperma yang kita lihat saat ini sebenarnya dihasilkan beberapa bulan yang lalu. “Untuk memperbaiki kualitasnya, dibutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan. Jadi perlu bersabar untuk melihat hasilnya,” ujar Dokter Spesialis Andrologi RS Pondok Indah – Puri Indah dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.
Langkah untuk memperbaiki kualitas sperma, sebut dr. William, dapat dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat, antara lain pola makan bergizi seimbang sesuai kaidah Isi Piringku, olahraga teratur, dan mengelola stres.
Tanpa disadari, stres memiliki dampak negatif terhadap produksi sperma, salah satunya dengan menurunkan kadar hormon testosteron. “Stres dapat menghambat proses optimal dalam produksi sperma,” cetus dr. William.

Karenanya, penting untuk mengelola stres secara efektif, di antaranya dengan olahraga teratur, meditasi atau melakukan aktivitas relaksasi lainnya.
Selain itu, kualitas sperma dipengaruhi oleh asupan makanan. Berbagai vitamin dan mineral yang terkandung dalam makanan bergizi memiliki peranan penting dalam mendukung produksi sperma yang sehat.
Untuk menunjang kesehatan sperma disarankan untuk mengonsumsi makanan berwarna, mencakup sayur dan buah, yang banyak mengandung vitamin, mineral serta antioksidan.
Kombinasi berbagai jenis vitamin, termasuk vitamin C dan B, dapat memberikan efek positif terhadap kualitas sperma.
Langkah selanjutnya untuk meningkatkan kualitas sperma adalah dengan tidur yang cukup, yaitu sekitar 7 hingga 8 jam setiap malam.
Tidue cukup dan berkualitas penting dalam menunjang kesehatan sperma karena saat tidur tubuh memproduksi hormon testosteron yang memiliki peran penting dalam kualitas sperma.
“Produksi hormon testosteron biasanya mencapai puncaknya pada pagi hari, antara pukul 06.00 hingga 09.00. Tidur yang berkualitas, terutama pada malam hingga pagi hari, sangat berpengaruh terhadap kesehatan sperma,” terang dr. William.
Sedangkan kurang tidur dapat mempengaruhi produksi hormon testosteron – yang pada gilirannya berdampak pada kualitas sperma.
Langkah selanjutnya untuk memperbaiki kualitas sperma adalah dengan menerapkan abstinensi, berarti menahan diri dari ejakulasi dalam jangka waktu tertentu. Hal ini diyakini berperan signifikan dalam eningkatkan kualitas sperma.
Abstinensi sebaiknya dilakukan antara 2 hingga 7 hari sebelum ovulasi. Tujuannya tak lain agar jumlah sperma yang dihasilkan menjadi lebih banyak dan berkualitas tinggi.
“Selama masa abstinensi tersebut, tubuh memiliki kesempatan untuk memproduksi sperma dengan kualitas yang lebih baik, sehingga mendukung proses reproduksi yang optimal,” terang dr. William.

Untuk menjaga kesehatan sperma hindari mengenakan pakaian dalam terlalu ketat/sempit, karena dapat meningkatkan suhu di sekitar testis, yang berpotensi merugikan produksi sperma. “Suhu tinggi di area testis dapat membunuh sperma atau menurunkan kualitasnya,” ujarnya.
Kondisi kesehatan tertentu, seperti varikokel, dapat berdampak pada kualitas sperma. Varikokel ini mirip dengan varises pada kaki, terjadi karena ada penurunan aliran darah di area testis.
Penurunan aliran darah menyebabkan berkurangnya pasokan darah yang diperlukan untuk menjaga kesehatan testis, yang pada gilirannya dapat menurunkan kualitas sperma.
Bagi pria yang merasakan gejala seperti pembengkakan atau ketidaknyamanan di daerah testis, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. (BS)