Berandasehat.id – Setiap anak memiliki bakat yang bisa dikenali, dipupuk dan dikembangkan agar mencapai potensi optimal.

Menurut Murni Risman dari Tes Bakat Indonesia, bakat ada yang bersifat genetik, namun ada juga yang didapat/dibentuk karena pengaruh lingkungan.

“Bakat yang diturunkan dari genetik bisa dikenali di usia satu tahun. Penting bagi orang tua untuk mengamplify bakat itu agar optimal. Bila orang tua tidak memberikan stimulus yang tepat, bisa jadi bakat itu tidak muncul hingga usia dewasa,” kata Murni di acara diskusi media menandai peluncuran platform pencarian aktivitas anak secara daring, Happy Kamper, di Jakarta, baru-baru ini.

Lebih lanjut Murni mengungkap, orang tua memang memiliki peluang observasi bagus terkait pengenalan bakat anak. “Tapi agar lebih tepat perlu adanya asesmen yang lebih objektif dengan tes bakat,” terangnya.

Tes bakat ini menurut Murni bisa dilakukan di usia berapa saja. “Tidak ada kata terlambat. Tes bakat bisa dilakukan dari anak, remaja dan dewasa. Tapi memang jauh lebih baik jika dilakukan semasa kanak-kanak. Jadi tidak ada trial and error untuk mengikutkan  anak di berbagai aktivitas ternyata hasilnya hanya average karena memang bakatnya bukan di situ. Itu hanya buang-buang duit,” tuturnya.

Murni Risman dari Tes Bakat Indonesia (dok. Berandasehat.id)

Terlalu banyak mendorong anak mengikuti beragam aktivitas yang tidak sesuai minat dan bakat menurut Murni akan membuat anak frustrasi. “Jangan pula orang tua memaksakan minat atau sekadar ikutan tren. Misalnya kelas coding sedang tren dan anak didaftarkan di situ. Tidak semua anak cocok dan bisa memgikuti. Itu malah membuat anak frustrasi,” urainya.

Cara terbaik orang tua dalam mendukung anak adalah dengan melibatkan anak pada aktivitas sesuai minat dan bakatnya. “Kalau ini digali sejak dini nantinya akan bisa menjadi expert saat dewasa. Jadi kemampuannya bukan hanya rata-rata,” beber Murni.

Lebih lanjut Murni menyampaikan, agar bakat berkembang optimal, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan orang tua, yakni jangan salah mengidentifikasi. “Buang ego orang tua yang menginginkan anak menjadi seperti dirinya, padahal bakatnya tidak di situ,” saran Murni.

Identifikasi bakat anak bisa dengan observasi pribadi, dilengkapi dengan tes IQ atau sidik jari, dan tes bakat.

Tak kalah penting adalah pemilihan kurikulum sekolah agar bakat anak berkembang. “Sekolah mahal banget. Makanya pilih sekolah dengan kurikulum yang menunjang minat dan bakat anak. Jangan buru-buru memasukkan anak ke sekolah tertentu karena tren. Misalnya, tak semua anak cocok dengan sekolah coding yang saat ini lagi naik banget,” ujar Murni.

Murni mengingatkan agar ortu tidak ‘menjejalkan’ beragam aktivitas sehingga anak kewalahan. “Ada anak yang bisa mengikuti berbagai aktivitas, namun ada juga yang tidak. Mental age anak bisa beda di usia yang sama. Jadi tidak semua anak sanggup dengan struktur aktivitas yang dalam dan padat,” urainya.

Lebih baik, libatkan anak dengan fokus pada satu atau dua aktivitas dulu. “Nanti seiring usia berkembang bisa dicoba aktivitas lain lagi,” tandas Murni.

Optimalkan Tumbuh Kembang Anak dengan Aktivitas yang Pas

Platform pencari aktivitas anak pertama di Indonesia, Happy Kamper, resmi dirilis dan mendapat antusiasme tinggi dari para orang tua yang ingin menemukan aktivitas yang pas untuk anak dengan cara praktis, yakni melalui perangkat gawai.

Beroperasi selama enam bulan, platform Happy Kamper telah didukung lebih dari 250 penyedia layanan aktivitas anak seperti The Parlor Hills, Dago Dreampark, Buumi Playscape, Playfield, Happy Kiddy, dan Zoomoov.

“Kami melakukan kurasi dengan ketat penyedia layanan yang hendak bergabung. Juga menjaga keamanan data anak-anak yang telah bergabung dalam keanggotaan yang didaftarkan oleh orang tua mereka,” terang Helena Tegoeh, co-founder sekaligus Chief Operating Officer Happy Kamper.

Sebagai yang pertama dan satu-satunya platform pencarian aktivitas anak, Happy Kamper mengusung beragam fitur unggulan yang dirancang untuk membantu para orang tua di Indonesia menemukan aktivitas dan kegiatan terbaik untuk anak.

Aktivitas itu tersedia untuk anak usia 1 hingga 17 tahun. Dari data yang masuk, anak-anak yang didaftarkan terbanyak di usia 3 hingga 7 tahun. Mitra yang tergabung dalam Happy Kamper datang dari berbagai lokasi di Indonesia, di antaranya Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Selain itu,

Saat ini platform Happy Kamper memiliki lebih dari 600 aktivitas anak terbagi di dalam sembilan kategori aktivitas.

Kesemoatan sama, Jared Prellwitz, Chief Executive Officer sekaligus co-founder Happy Kamper, menambahkan bahwa bersama Happy Kamper orang tua dapat menemukan aktivitas terbaik dan menyenangkan serta menunjang tumbuh kembang anak.

Helena Tegoeh dan Jared Prellwitz, co-founder Happy Kamper (dok. Berandasehat.id)

Happy Kamper hadir dengan berbagai kelebihan yang menjadikannya platform pilihan utama bagi orang tua.

Pertama, memiliki pilihan sktivitas yang beragam. “Happy Kamper menyediakan berbagai kegiatan mulai dari olahraga, seni, edukasi, hingga aktivitas rekreasi untuk anak usia 0-12 tahun,” ujar Helena.

Kedua, platform itu memiliki kemudahan akses dan pemesanan. Orang tua dapat dengan mudah mencari aktivitas yang sesuai dengan usia, minat, lokasi, serta anggaran melalui aplikasi atau website.

Ketiga, Happy Kamper memastikan harga terbaik dengan berbagai promosi dan paket menarik bagi keluarga, serta mengutamakan kepercayaan dan keamanan sebagai prioritas.

“Semua aktivitas yang ditawarkan telah melalui kurasi ketat dari penyedia tepercaya, memastikan keamanan dan kualitas bagi anak. Data anggota juga kami lindungi ketat,” tandas Helena. (BS)