Berandasehat.id – Jam tangan pintar (smartwatch) dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar penunjuk waktu. Selain melacak jadwal, lokasi, dan aktivitas, jam tangan pintar juga memiliki kemampuan memantau kesehatan, terutama aktivitas yang mempengaruhi kesehatan jantung.
Banyak orang rela menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah demi perangkat yang dapat dikenakan terbaru dengan anggapan bahwa semakin canggih perangkat tersebut, semakin besar peluang mereka untuk menyelamatkan nyawa, termasuk deteksi gangguan jantung.
Namun, jam tangan pintar masih memiliki jalan panjang untuk mendeteksi berbagai masalah jantung.
Perangkat yang dapat dikenakan telah berkembang jauh sejak pertama kali beredar di pasaran. Beberapa model kini menargetkan orang-orang yang peduli kesehatan yang menginginkan pemantauan detak jantung, pelacakan latihan, pelacakan tidur, dan fitur lainnya.
Untuk kesehatan jantung, jam tangan pintar menggunakan teknologi fotopletismografi (PPG), teknik optik yang mendeteksi perubahan volume darah di jaringan.
Lampu LED dan sensor khusus bekerja sama untuk mengukur perubahan aliran darah di pergelangan tangan.
Selain tekanan darah, teknologi yang sama digunakan untuk mengukur saturasi oksigen dan curah jantung. Metode ini sederhana, murah, dan non-invasif, sehingga menjadikannya teknologi yang ideal untuk jam tangan pintar.
Jam tangan pintar juga memantau detak dan irama jantung. Jantung yang berdetak tidak teratur merupakan tanda fibrilasi atrium. Beberapa model memiliki algoritma khusus untuk mendeteksi kondisi ini, yang sering dikaitkan dengan gumpalan darah yang berbahaya.
Fibrilasi atrium yang terus-menerus dapat menyebabkan gagal jantung, menurut National Health Service (NHS).
Dapatkah jam tangan pintar mendiagnosis masalah jantung yang serius? Jawabannya adalah ya dan tidak.
Perangkat yang dapat dikenakan yang tersedia saat ini masih terbatas dalam hal mengumpulkan informasi yang relevan tentang jantung dan fungsinya. Perangkat tersebut mungkin memberi gambaran kepada pengguna dan praktisi medis, tetapi masih jauh dari sekadar alat diagnostik.

Sebuah studi kecil menemukan bahwa pembacaan elektrokardiogram (EKG) yang diambil dengan jam tangan pintar bisa sama akuratnya dengan mesin EKG yang lebih tradisional yang tersedia di rumah sakit dan klinik.
Namun, Harvard Health menunjukkan bahwa teknologi tersebut belum siap untuk digunakan, dengan penerapannya di dunia nyata masih bertahun-tahun lagi.
“Studi ini lebih merupakan bukti prinsip daripada sesuatu yang berguna secara klinis,” kata profesor Harvard Medical School Dr. Peter Libby, seorang ahli jantung di Rumah Sakit Brigham and Women’s yang berafiliasi dengan Harvard, dalam rilis berita Harvard Health.
Lantas, apa yang dapat dideteksi oleh jam tangan pintar?
Bergantung pada modelnya, perangkat yang dapat dikenakan dari produsen seperti Apple, Fitbit, Samsung, Google, Omron, Garmin, dan Withings memiliki fungsi jantung yang bervariasi.
Namun, sebagian besar, jika tidak semuanya, dilengkapi dengan deteksi detak jantung.
Sebagian besar perangkat dengan PPG dan EKG sadapan tunggal telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) untuk deteksi fibrilasi atrium.
Perangkat lain dengan manset tiup yang terpasang di dalam jam tangan dapat mendeteksi tekanan darah. Beberapa model memberikan informasi tentang kadar oksigen dalam darah, demikian laporan Medical Daily. (BS)