Berandasehat.id – Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak signifikan pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, sehingga bisa mempengaruhi kemampuan mental dan belajar anak di sekolah.
Menurut dr. Novitria Dwinanda, SpA(K), ada berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan stunting antara lain, rendahnya pemahaman orang tua tentang stunting sehingga kurang memperhatikan asupan gizi selama kehamilan, serta seperti kecukupan ASi dan praktik pemberian makan pendamping (MPASI) yang tidak tepat.
Selain itu rendahnya pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin karena kesadaran masyarakat dan terbatasnya akses ke fasilitas kesehatan.
“Masih banyak orang tua di Indonesia sulit menerima kenyataan atau malu jika anaknya terdiagnosis stunting dan cenderung menyangkal diagnosis dan menolak untuk dirujuk ke rumah sakit agar mendapat penanganan komprehensif,” kata dr. Novitria dalam temu media menandai kampanye Aksi ‘3 Langkah MAJU (3LM)’ yang dihelat Sarihusada dan Alodokter di Jakarta, baru-baru ini.

Lebih lanjut dokter spesialis anak itu menekankan pentingnya penanganan anak dengan risiko stunting melalui intervensi keluarga dan lingkungan terdekat anak.
“Hal itu perlu dibarengi dengan peningkatan pemahaman tentang pemantauan pertumbuhan, pemberian nutrisi tepat, dan pemahan diagnosis stunting sendiri. Ini merupakan salah satu upaya penurunan angka stunting di Indonesia,” tutur dr. Novitria.
Kesempatan sama, Angelia Susanto, Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director, Danone SN Indonesia, mengatakan Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) terus memperkuat kolaborasi untuk mendukung pemerintah mendorong pencegahan stunting di Indonesia.
Dalam momentum peringatan Hari Gizi Nasional 2025, Sarihusada berkolaborasi dengan Alodokter meluncurkan kampanye Aksi ‘3 Langkah MAJU (3LM)’ yang bertujuan untuk mendukung pencegahan stunting sejak dini di Indonesia dengan melakukan edukasi dan skrining stunting yang ditargetkan bisa menjangkau setidaknya 1 juta anak.
“Kampanye ini juga merupakan bagian dari keberlanjutan program Gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) yang telah diinisiasi sejak 2023,” kata Angelia.
Melalui inisiatif ini para ibu diajak melakukan deteksi dini risiko stunting pada anak dengan 3 Langkah MAJU (3LM), mencakup: Mengukur tinggi dan berat secara teratur, Ajak konsultasi ke dokter; Upayakan beri nutrisi teruji klinis.
Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) dikembangkan bersama Alodokter sejak 2023 dan telah menjangkau lebih dari 8.000 penerima manfaat dengan melakukan skrining status gizi anak di 50 titik lokasi di Indonesia.
Tahun ini, Sarihusada kembali berkolaborasi bersama Alodokter meluncurkan kampanye aksi ‘3 Langkah MAJU (3LM)’ yang masih menjadi bagian dari Gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS).
Angelia menekankan, inisiatif kolaborasi melalui kampanye terbaru ini sejalan dengan visi Sarihusada untuk memperluas akses kesehatan dan pemenuhan nutrisi bagi anak Indonesia, serta merupakan salah satu bentuk komitmen perusahaan untuk terus mendorong pencegahan stunting di Indonesia.
Menurut dr. Novitria, skrining dan rujukan sangat penting dalam mewujudkan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS). “Skrining dini menjadi kunci dalam deteksi awal sehingga intervensi cepat dapat dilakukan,” ujarnya.

Skrining efektif mencakup pengukuran tinggi, berat badan, dan penilaian status gizi untuk memastikan anak tumbuh sesuai standar.
Dengan deteksi dini memungkinkan penanganan tepat, mengurangi risiko komplikasi, dan memastikan anak mendapatkan perawatan optimal.
Sedangkan rujukan terapi stunting memastikan anak menerima intervensi yang tepat, seperti suplementasi gizi, perubahan pola makan, dan pemantauan intensif. Melalui rujukan yang tepat, anak dapat mengakses sumber daya yang diperlukan untuk memperbaiki status gizi dan mencegah dampak jangka panjang stunting.
Keterlibatan berbagai pihak dalam proses ini, mulai dari tenaga kesehatan hingga keluarga, akan sangat berkontribusi pada upaya mewujudkan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS). (BS)