Berandasehat.id – Serangan iskemik transien (TIA) pertama kali dikaitkan dengan penurunan kognitif/daya ingat jangka panjang, menurut debuah studi yang dipimpin oleh University of Alabama di Birmingham Heersink School of Medicine.
Temuan menunjukkan bahwa individu yang mengalami TIA mengalami penurunan kognitif tahunan yang serupa dengan mereka yang terkena stroke, meskipun sifat kejadiannya sementara dan tidak adanya lesi otak yang terlihat pada pencitraan dengan bobot difusi.
TIA adalah kejadian iskemik akut di otak yang biasanya pulih dalam waktu dua hingga 15 menit, sering kali tidak meninggalkan kerusakan struktural yang terdeteksi pada pencitraan.
Sejauh ini stroke dikenal baik sebagai faktor risiko utama untuk gangguan kognitif, dampak TIA pada fungsi kognitif jangka panjang kurang dipahami.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa individu dengan TIA berisiko lebih tinggi mengalami demensia selama lima tahun, tetapi apakah penurunan ini secara langsung disebabkan oleh TIA atau karena kondisi yang sudah ada sebelumnya masih belum jelas.

Dalam studi bertajuk ‘Penurunan Kognitif Setelah Serangan Iskemik Transien Pertama Kali’ yang diterbitkan di JAMA Neurology, para peneliti menganalisis data dari penelitian Reasons for Geographic and Racial Differences in Stroke (REGARDS), sebuah kohort berbasis populasi yang melacak lebih dari 30.000 peserta Kulit Hitam dan Putih untuk kejadian serebrovaskular.
Para peneliti membandingkan lintasan kognitif individu dengan TIA pertama kali, stroke pertama kali, dan kontrol komunitas asimtomatik.
Semua kejadian serebrovaskular dikonfirmasi melalui neuroimaging dan diputuskan oleh spesialis stroke.
Kefasihan verbal dan memori dinilai dua kali setahun menggunakan tes kognitif standar. Hasil utama adalah skor kognitif komposit yang berasal dari empat tes yang mengukur memori dan fungsi verbal.
Model regresi tersegmentasi yang disesuaikan digunakan untuk membandingkan lintasan kognitif pra-peristiwa dan pasca-peristiwa kelompok. Kohort tersebut mencakup 356 individu dengan TIA pertama kali (usia rata-rata, 66,6 tahun), 965 individu dengan stroke pertama kali (usia rata-rata, 66,8 tahun), dan 14.882 kontrol asimtomatik (usia rata-rata, 63,2 tahun).
Data menunjukkan bahwa sebelum stroke atau TIA terjadi, peserta dalam kelompok stroke sudah memiliki skor tes kognitif yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok TIA dan kelompok kontrol.
Ini bisa berarti bahwa masalah vaskular yang mendasarinya (seperti aliran darah yang buruk atau mini-stroke diam-diam) sudah mempengaruhi kognisi/daya ingat sebelum mereka mengalami stroke besar.
Setelah stroke, pasien menunjukkan penurunan kognitif yang jelas dan langsung diikuti oleh penurunan bertahap.
Pasien TIA tidak menunjukkan penurunan kognitif langsung setelah kejadiannya. Mereka mengalami penurunan kognitif yang dipercepat pada tingkat penurunan tahunan yang sebanding dengan kelompok stroke dan secara signifikan lebih besar daripada kelompok kontrol.
Penurunan kognitif pada kelompok TIA terutama didorong oleh gangguan memori daripada kefasihan verbal.
Temuan menunjukkan bahwa TIA, meskipun gejalanya sementara dan tidak terdeteksinya cedera otak melalui pencitraan, tetap dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang pada kesehatan kognitif.
Mekanisme yang mungkin terjadi meliputi cedera iskemik yang tidak kentara, neuroinflamasi (peradangan otak), disfungsi sawar darah-otak, atau interaksi dengan faktor neurodegeneratif yang mendasarinya.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah TIA berkontribusi terhadap risiko demensia dan untuk mengembangkan intervensi pasca-TIA yang terarah guna mengurangi penurunan kognitif, demikian laporan Science x Network. (BS)