Berandasehat.id – Setiap orang tua akan mengalami masa saat batita (bawah tiga tahun) mogok makan. Beragam penyebab buah hati menolak makan alias melakukan gerakan tutup mulut (GTM) yang bikin ortu senewen sekaligus cemas.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam laman resminya menyebut, penyebab GTM pada batita bermacam-macam, di antaranya tidak lapar, sedang sakit, trauma terhadap makanan tertentu maupun proses makan, hingga bosan.

Studi multisenter IDAI memgungkap penyebab tersering GTM pada anak adalah perilaku makan yang kurang tepat atau pemberian makanan yang tidak sesuai usia.

Umumnya GTM terjadi sejak fase penyapihan atau waktu dimulainya pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).  

Alyssa Soebandono dan Dude Harlino termasuk orang tua yang mengalami anak GTM, yaitu pada anak sulung, Muhammad Dirgantara Ariendra Harlino (Riendra) di masa MPASI.

Riendra menurut Alyssa biasanya lahap makan, namun ada suatu masa dia mogok makan dari waktu sarapan hingga makan malam.

Beberapa hari kemudian Alyssa baru paham alasan Riendra menolak makanan karena tumbuh gigi.

Alyssa Soebandono dan Dude Harlino menceritakan pengalaman anak menolak makan (dok. Berandasehat.id)

“Ternyata ini penyebabnya. Jadi kami sudah panik duluan. Ternyata masalahnya hanya karena hal sepele. Cuma karena anak itu belum bisa bicara, jadi yang bisa dilakukan hanya menangis dan merengek, tutup mulut, sudah itu saja,” kata Alyssa didampingi Dude di acara SUN Ajak Ibu Lawan GTM dengan Metode Gerakan Lahap Makan (GLM) di Jakarta, baru-baru ini.

Alyssa mengakui pengalaman paling banyak dalam pengasuhan ada di anak pertama, termasuk.pertama.kali.memberi MPASI dan mengalami soal GTM.

Terkait GTM, dr. Dimple Nagrani, Sp.A, BmedSc, seorang spesialis anak mengungkap, alasan anak menolak makan boasanya dipicu oleh tiga faktor utama yang saling berkaitan. Tiga faktor itu adalah waktu pemberian makan, variasi dan tekstur sesuai usia, serta cara pemberian makan.

Mengingat GTM menjadi salah satu sumber kecemasan orang tua, untuk itu SUN bersama dr. Dimple merumuskan metode Gerakan Lahap Makan (GLM) untuk membantu para orang tua mengatasi anak menolak makan. 

Peluncuran Gerakan Lahap Makan sekaligus penunjukan Alyssa Soebandono dan Dude Harlino sebagai duta (dok. ist)

Metode GLM ini terdiri dari tiga hal utama.

1. Beri makan saat lapar

– Berikan makan saat bayi lapar dan tidak mengantuk.

– Sebaiknya bayi puasa 2-3 jam sebelum makan, termasuk camilan dan ASI.

2. Variasikan jenis makanan dan tekstur yang tepat

– Jenis makanan bervariasi, kombinasi sumber karbohidrat, protein hewani, dan lemak untuk MPASI.

-Buatlah MPASI dengan rasa dan aroma yang menggugah selera, misalnya penggunaan rempah untuk meningkatkan nafsu makan bayi.

– Tekstur makanan bayi naik sesuai usia untuk melatih kemampuan mengunyah. Misalnya usia 5-6 bulan dengan tekstur halus dan kental,  9-12 bulan padat dan lembut,  12 bulan ke atas mulai dikenalkan makanan keluarga.

3. Cara pemberian makan harus tepat

– Untuk mencegah anak GTM, cara pemberian makan harus benar, pastikan mulut sudah kosong sebelum suapan berikutnya.

– Makan dalam posisi duduk, tidak berdiri atau digendong, apalagi sambil nonton TV/gadget yabg hanya meninbulkan distraksi.

– Biarkan bayi belajar makan sendiri.

– Durasi makan maksimal 30 menit.

Tak lupa, dr. dimple mengingatkan agar orang tua tak asal menyematkan istilah GTM pada anak. “Kalau dia menolak makan karena tidak lapar atau mengantuk, itu bukan GTM,” ujarnya.

Tujuan Gerakan Lahap Makan

Head of Marketing Indofood Nutrition and Special Foods Division, Stephanie Lay, mengatakan metode Gerakan Lahap Makan (GLM) dapat mendorong para ibu untuk mengatasi masalah GTM pada anak.

“Tujuannya agar anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan terhindar dari masalah makan yang berisiko mempengaruhi tumbuh kembang,” tutur Stephanie.

Untuk mencapai tujuan ini, SUN akan memperkenalkan GLM ke lebih dari 2.000 posyandu di seluruh Indonesia. “Gerakan ini memang dibuat untuk membantu lebih banyak ibu mengatasi buah hatinya yang sedang melakukan GTM,” lanjutnya.

Alyssa Soebandono (tengah) mengkreasikan MPASI agar anak semangat makan (dok. Berandasehat.id)

Dengan adanya Gerakan Lahap Makan, SUN berharap dapat membantu para ibu di Indonesia dalam menghadapi tantangan GTM dengan metode yang lebih mudah dimengerti dan dipraktikkan, Stephanie menambahkan.

Menurutnya, SUN menjadi produk yang banyak dipilih para ibu karena tekstur dan variasi rasanya yang disukai anak-anak.

Selama lebih dari 30 tahun, SUN terus berinovasi menghadirkan MPASI yang praktis, aman, dan bergizi. Produk SUN telah bersertifikasi BPOM dan The Codex Alimentarius Commission, menjamin keamanan pangan tanpa pengawet atau perisa tambahan. (BS)