Berandasehat.is – Setelah satu atau dua minggu liburan dan pengaturan pola makan serta rutinitas olahraga rutin ditunda, kenaikan berat badan sering kali menjadi efek samping yang sudah diprediksi bakal terjadi.

Namun, tantangan sebenarnya muncul saat kita merasa sulit untuk mengurangi makan bahkan setelah kembali ke suasana normal. Para peneliti memiliki penjelasannya: Diet tinggi kalori jangka pendek tidak hanya muncul di timbangan, namun juga mempengaruhi otak.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature mengungkap bahwa makan makanan tinggi gula dan lemak dalam jangka pendek pun dapat mempengaruhi otak orang pada umumnya, menyebabkan otak berfungsi mirip dengan otak orang yang mengalami obesitas.

Temuan yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa perubahan otak terjadi bahkan sebelum seseorang mulai menyadari kenaikan berat badan.

Makanan tinggi gula (dok. ist)

“Data kami menunjukkan bahwa respons otak dan perilaku (orang dengan bobot normal) menyerupai orang yang mengalami obesitas dan perubahan otak tampaknya terjadi sebelum kenaikan berat badan,” kata Prof. Stephanie Kullmann, peneliti utama studi tersebut kepada Telegraph.

Para peneliti mencatat bahwa kembalinya otak ke keadaan normal membutuhkan waktu lebih lama dari yang diharapkan, yang menjelaskan mengapa keinginan untuk mengonsumsi makanan tersebut berlangsung lebih lama.

Perubahan pada otak berlangsung lebih lama dari jangka waktu konsumsi. “Secara perilaku, kami melihat bahwa partisipan menunjukkan perubahan dalam perilaku penghargaan: Sensitivitas penghargaan yang berkurang dapat menyebabkan asupan makanan yang lebih banyak,” Prof Kullmann menambahkan.

Penelitian ini mengevaluasi 18 pria muda dan sehat yang menjalani diet tinggi kalori yang kaya akan makanan manis dan berlemak, dan membandingkan perubahan pada otak mereka dengan perubahan pada otak 11 pria yang menjalani diet normal.

Selama lima hari, partisipan yang menjalani diet tinggi kalori mengonsumsi sekitar 1.200 kalori ekstra per hari dibandingkan dengan asupan biasanya.

Setelah menjalani diet tinggi kalori selama lima hari, meskipun tidak ada kenaikan berat badan yang signifikan, para peneliti mencatat perubahan substansial pada otak partisipan sebagaimana terungkap oleh tes yang dilakukan seminggu kemudian.

Otak partisipan memiliki tingkat resistensi insulin yang lebih tinggi dibandingkan dengan partisipan dalam kelompok kontrol.

Peneliti menyimpulkan makan berlebih dalam jangka pendek dengan camilan ultra-olahan berkalori tinggi dapat memicu penumpukan lemak di hati dan gangguan jangka pendek pada kerja insulin otak yang bertahan lebih lama dari jangka waktu HCD (diet tinggi kalori) pada pria. (BS)