Berandasehat.id – Makanan yang kita makan tidak hanya membentuk kesehatan fisik, tapi juga memainkan peran penting dalam suasana hati dan kesejahteraan mental. Kabar terkini, para peneliti menemukan bahwa bumbu tertentu yang kita gunakan untuk meningkatkan rasa dapat memiliki dampak yang mengejutkan pada kesehatan mental, dalam hal ini meningkatkan risiko depresi.

Temuan dari sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di Journal of Immunology ini sangat mengejutkan, karena bumbu yang diteliti adalah garam, penambah rasa umum yang ditemukan di semua jenis masakan.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya hubungan antara asupan garam yang tinggi dan depresi, tetapi mekanisme pastinya masih belum jelas.

Dalam penelitian terbaru, para peneliti menggunakan model tikus untuk menyelidiki lebih lanjut dan menemukan bahwa pola makan tinggi garam memicu produksi protein yang disebut IL-17A, yang diketahui memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko depresi.

Selama percobaan, tikus diberi makan makanan normal atau makanan tinggi garam selama lima minggu. Tikus yang diberi makanan tinggi garam menunjukkan lebih banyak ketidakaktifan dan kurang minat dalam eksplorasi, yang menunjukkan gejala seperti depresi.

Ilustrasi garam meja (dok. ist)

Mengingat IL-17A dikaitkan dengan depresi, para peneliti menyelidiki perannya dan menemukan bahwa tikus yang mengonsumsi makanan tinggi garam mengalami peningkatan kadar IL-17A di limpa, darah, dan otak, yang berkorelasi dengan perilaku seperti kecemasan dan depresi. Akan tetapi, tikus yang tidak memproduksi IL-17A tidak mengalami gejala-gejala ini, yang mengonfirmasi perannya dalam depresi.

Penelitian ini tidak hanya menyoroti hubungan antara asupan garam tinggi dan depresi, tetapi juga menunjukkan pengurangan garam sebagai cara sederhana namun efektif untuk mendukung kesejahteraan mental.

Yang lebih menarik, penelitian ini menunjukkan bahwa menargetkan IL-17A dapat mengarah pada pendekatan pengobatan baru untuk depresi.

“Penelitian ini mendukung intervensi diet, seperti pengurangan garam, sebagai tindakan pencegahan penyakit mental,” kata Dr. Xiaojun Chen, seorang peneliti di Universitas Kedokteran Nanjing yang memimpin penelitian tersebut dalam rilis berita.

Penelitian ini juga membuka jalan bagi strategi terapi baru yang menargetkan IL-17A untuk mengobati depresi. “Kami berharap temuan ini mendorong diskusi tentang pedoman konsumsi garam,” ujarnya.

Temuan studi yang mengaitkan konsumsi garam dengan gangguan depresi mayor sangat relevan mengingat meluasnya penggunaan garam dalam makanan Barat dan meningkatnya popularitas makanan cepat saji yang dapat mengandung hingga 100 kali lebih banyak garam daripada makanan rumahan.

Hubungan ini menjadi perhatian yang semakin mendesak karena gangguan depresi mayor memengaruhi 15-18% populasi dan termasuk dalam 10 penyebab kematian teratas di Amerika saja. (BS)