Berandasehat.id – Tingkat kanker kolorektal (usus besar) meningkat secara global. Peningkatan yang sangat mengkhawatirkan tercatat di kalangan orang dewasa muda di bawah 50 tahun.
Para peneliti yakin telah mengungkap penyebab tersembunyi di balik misteri medis tersebut. Sebuah studi terkini menunjukkan bahwa paparan dini terhadap racun yang diproduksi oleh galur E. coli yang berbahaya dapat menjadi kemungkinan pendorong di balik lonjakan tersebut.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature, para peneliti menemukan bahwa paparan kolibactin di masa kanak-kanak, racun yang diproduksi oleh galur E. coli tertentu, merusak DNA dan mutasi ini meningkatkan risiko kanker usus sebelum usia 50 tahun.
Dalam analisis genom skala besar terhadap 981 kanker kolorektal di 11 negara, para peneliti mencatat pola mutasi DNA yang berbeda yang disebabkan oleh kolibactin.
Pola DNA spesifik ini tiga kali lebih umum pada pasien di bawah usia 40 tahun dibandingkan dengan mereka yang berusia di atas 70 tahun.
Yang menarik, sidik jari genetik ini tidak hanya terlihat pada orang dewasa muda, tetapi lebih sering di negara-negara dengan tingkat kanker kolorektal dini tertinggi. Ini menunjukkan kemungkinan hubungan antara paparan bakteri dan meningkatnya jumlah orang dewasa muda yang terkena dampak di seluruh dunia.

“Pola mutasi ini adalah semacam catatan sejarah dalam genom, dan menunjukkan paparan kolibactin di awal kehidupan sebagai kekuatan pendorong di balik penyakit,” kata penulis senior studi Ludmil Alexandrov dalam rilis berita.
“Jika seseorang memperoleh salah satu mutasi pendorong ini pada saat mereka berusia 10 tahun, mereka bisa puluhan tahun lebih cepat dari jadwal untuk mengembangkan kanker kolorektal, mendapatkannya pada usia 40 tahun, bukan 60 tahun,” jelas Alexandrov.
Sementara studi sebelumnya termasuk penelitian pendahuluan dari tim yang sama telah menghubungkan kolibactin dengan 10 hingga 15 persen dari semua kasus kanker kolorektal, mereka tidak membedakan antara pasien yang lebih muda dan yang lebih tua.
Penulis pertama Marcos Díaz-Gay mengatakan saat memulai proyek ini, tim peneliti tidak berencana untuk fokus pada kanker kolorektal dini. “Tujuan awal kami adalah untuk meneliti pola kanker kolorektal global guna memahami mengapa beberapa negara memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi daripada negara lain,” ujarnya.
Namun, saat menggali data, salah satu temuan yang paling menarik dan mencolok adalah seberapa sering mutasi terkait kolibaktin muncul pada kasus-kasus dini, lanjut Diaz-Gay.
Para peneliti kini tengah menjajaki cara-cara inovatif untuk menerjemahkan temuan-temuan ini menjadi alat deteksi dan pencegahan dini.
Salah satu ide yang menjanjikan adalah uji tinja yang dirancang untuk mendeteksi penanda terkait kolibaktin, yang dapat membantu mengidentifikasi individu-individu yang berisiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal dini.
Mereka juga tengah menyelidiki potensi terapi probiotik yang ditujukan untuk menyeimbangkan kembali mikrobioma usus pada anak-anak guna mengurangi risiko di kemudian hari. (BS)