Berandasehat.id – Remaja yang tampak sehat dan memiliki berat badan normal pun bisa jadi berisiko mengalami kerusakan jantung jika mereka memiliki satu kondisi kesehatan tersembunyi, demikian peringatan sebuah penelitian terkini.
Remaja dengan pradiabetes, suatu kondisi yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi dan resistensi insulin, mungkin menghadapi risiko masalah jantung yang jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Diabetes Care, remaja dengan pradiabetes hampir tiga kali lebih mungkin mengalami kerusakan jantung struktural dan fungsional yang memburuk selama masa pertumbuhan hingga dewasa muda.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah adanya temuan bahwa kerusakan jantung berkembang lima kali lebih cepat pada anak perempuan daripada pada anak laki-laki. Ini menyoroti kebutuhan mendesak bagi orang tua dan profesional kesehatan untuk lebih memperhatikan anak perempuan remaja dalam hal deteksi dini dan pencegahan pradiabetes.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengikuti 1.595 remaja berusia 17 hingga 24 tahun, menggunakan data dari kelompok Children of the 90s milik University of Bristol.
Prevalensi gula darah tinggi, resistensi insulin, dan pembesaran jantung pada peserta dievaluasi selama periode tersebut.

Remaja dengan kadar gula darah puasa ≥5,6 mmol/L selama periode tindak lanjut menghadapi risiko 46% lebih tinggi untuk mengalami hipertrofi ventrikel kiri, penebalan otot jantung yang dapat menyebabkan masalah jantung serius.
Bagi mereka yang kadar gula darahnya lebih tinggi (≥6,1 mmol/L), risikonya meningkat tiga kali lipat. Para peneliti juga mencatat bahwa resistensi insulin juga berperan, meningkatkan risiko kerusakan jantung dini hingga 10%.
“Hasil awal dari kelompok yang sama menunjukkan bahwa akhir masa remaja merupakan periode kritis dalam evolusi penyakit kardiometabolik. Temuan saat ini semakin menegaskan bahwa bahkan remaja dan dewasa muda yang tampak sehat yang sebagian besar memiliki berat badan normal mungkin berada di jalur menuju penyakit kardiovaskular, jika mereka memiliki glukosa darah tinggi dan resistensi insulin,” kata peneliti Andrew Agbaje, dalam rilis berita.
Agbaje menambahkan, memburuknya resistensi insulin dan peningkatan massa lemak memiliki lingkaran setan yang saling memperkuat. “Dalam studi baru ini, kami mengamati bahwa dua pertiga dari efek resistensi insulin pada pembesaran jantung yang berlebihan disebabkan oleh peningkatan lemak tubuh total,” terangnya.
Peningkatan lima kali lipat dalam prevalensi pradiabetes dalam kurun waktu tujuh tahun pertumbuhan dari masa remaja hingga dewasa muda menggarisbawahi pentingnya perilaku gaya hidup dan kebiasaan makan, terutama setelah remaja menjadi mandiri dari keluarga mereka. (BS)