Berandasehat.id – Kelompok dewasa dan lansia tercatat sebagai segmen populasi yang kerap terabaikan dalam wacana imunisasi. Data demografis menunjukkan bahwa Indonesia akan menghadapi aging population pada 2035, dengan proyeksi jumlah penduduk lansia mencapai 48,2 juta jiwa atau sekitar 15,77% dari total populasi. 

Kelompok usia 65–74 tahun memiliki prevalensi pneumonia tertinggi kedua setelah bayi di bawah usia satu tahun, yakni sebesar 0,86%, menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

Namun banyak orang dewasa dan lansia yang tidak lagi terproteksi oleh vaksin yang diterima pada usia anak, bahkan ada pula yang belum mendapatkan imunisasi lengkap ketika usia anak. “Padahal kalangan ini rentan terhadap berbagai ancaman penyakit berbahaya,” kata Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, FINASIM di acara Indonesian Vaccine Convention (IVAXCON) 2025 yang dihelat PT. Merck Sharp & Dohme Indonesia (MSD Indonesia) di Jakarta, baru-baru ini.

Risiko yang meningkat seiring bertambahnya usia, ditambah penurunan imunitas, membuat lansia rentan mengalami komplikasi serius. Untuk memberikan perlindungan yang optimal, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan vaksin pneumokokus bagi orang dewasa berusia 50 tahun ke atas.

Pentingnya perubahan paradigma vaksinasi

Dia mendorong perlunya perubahan paradigma bahwa vaksinasi hanya dibutuhkan pada masa kanak-kanak. “Perlindungan melalui vaksinasi perlu menjadi prioritas juga bagi populasi berisiko tinggi, seperti lansia, individu dengan penyakit kronis, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah,” ujarnya. 

Kesadaran ini harus dibangun sejak dini, termasuk di kalangan tenaga kesehatan, agar para tenaga kesehatan dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi dan mendorong pencegahan sebelum terjadi kondisi yang memburuk dari komplikasi serius.

Sementara itu, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), menyampaikan bahwa munisasi pada anak dan remaja merupakan langkah strategis untuk melindungi mereka dari penyakit infeksius/menular yang dapat dicegah. 

“Imunisasi dapat melindungi anak dari penyakit yang bisa dicegah dan juga komplikasi serius yang ditimbulkan dari penyakit tersebut,” ujar dr. Hartono.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat melalui tenaga kesehatan, bahwa penanganan penyakit setelah terjadinya komplikasi akan jauh lebih sulit, sehingga penting bagi orang tua untuk tidak ragu memberikan imunisasi pada anak sesuai anjuran.

Karenanya, Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi dan sinergi untuk menghadapi tantangan imunisasi.

Ilustrasi lansia (dok. ist)

Dia menyebut, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada tahun 2024 adalah 87,3% dan antigen baru seperti PCV (pneumococcal conjugate vaccine) dan RV (vaksin rotavirus) adalah 86,6% persen, cakupan ini masih belum mencapai target untuk terbentuknya kekebalan kelompok.

“Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti kurangnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi dan adanya hoaks atau misinformasi yang menjadikan masih banyaknya wilayah di Indonesia dengan cakupan imunisasi dasar lengkap yang rendah,” terang dr. Prima.

Salah satu cara paling sederhana yang bisa dilakukan tenaga kesehatan adalah dengan selalu menanyakan status imunisasi bayi atau anak dalam setiap kesempatan, bukan hanya saat akan mendapatkan imunisasi.

“Dengan cara ini, kita dapat melindungi generasi bangsa, karena anak-anak yang tumbuh sehat hari ini merupakan pondasi bagi lahirnya generasi pemimpin yang tangguh di masa mendatang,” tandas dr. Prima. (BS)