Berandasehat.id – Penyakit jantung menjadi penyebab kematian terbanyak kedua setelah stroke di tanah air. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami tanda dan gejala yang bisa merenggut nyawa, dan bahkan gejalanya dianggap sakit remeh.

Dilihat dari beban ekonomi, data BPJS Kesehatan menunjukkan dari semua penyakit yang dijamin, penyakit jantung menempati posisi pertama dengan jumlah kasus tertinggi pada 2023 mencapai 20,04 juta kasus. Adapun biaya yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan untuk menjamin penyakit jantung mencapai Rp23,52 triliun per 31 Desember 2023.

Penyakit jantung koroner (PJK) memiliki prevalensi dan angka kematian yang tinggi di Indonesia. Riskesdas 2018 menunjukkan sekitar 15 dari 1.000 penduduk Indonesia menderita PJK, atau sekitar 2.784.964 orang. Angka kematian akibat PJK juga signifikan, mencapai 245.343 kematian per tahun. 

Menurut Dr. dr. Yanto Sandy Tjang, Sp.BTKV, MPH, M.Sc, D.Sc, Ph.D, FICS, Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskuler dari RS Premier Jatinegara, penyakit jantung koroner adalah suatu kondisi di mana pembuluh darah koroner, yakni yang memasok darah ke otot jantung, mengalami penyempitan atau sumbatan, sehingga aliran darah ke jantung berkurang atau terganggu. 

Akibatnya, otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi, yang dapat menyebabkan berbagai masalah jantung, termasuk serangan jantung. 

Penyebab utama penyakit jantung koroner adalah aterosklerosis, yaitu penumpukan plak (timbunan lemak, kolesterol, dan zat lain) di dinding pembuluh darah. 

“Gejala penyakit jantung koroner bisa bervariasi, mulai dari nyeri dada (angina) berlangsung 5-15 menit, rasa tertekan (ditimpa beban, terperas, sakit, terjepit, terbakar) di dada, nyeri ulu hati, nyeri biasanya timbul saat sedang aktivitas dan berkurang saat istirahat, kesulitan bernapas (tercekik atau sesak), timbul keringat dingin, rasa mual hingga mati mendadak,” sebut dr. Yanto di acara diskusi bersama media ‘One Wave – Media Sharing: Special for Press Workers’ yang dihelat Asia OneHealthcare di Jakarta, baru-baru ini.

Sayangnya belum banyak masyarakat yang tahu bahwa gejala yang muncul merupakan tanda PJK. “Kalau nyeri ulu hati kerap disangka sakit maag padahal itu gejala sakit jantung,” ujarnya.

PJK dapat ditangani dengan berbagai cara, mulai pengobatan hingga operasi.

Bila pasien sakit jantung tidak bisa diatasi dengan obat-obatan, maka operasi bypass jantung menjadi pilihan.

Dikatakan dr. Yanto, mengutip panduan Asosiasi Jantung Amerika, penanganan PJK dengan bypass jantung dilakukan antara lain jika terjadi peyumbatan signifikan pembuluh darah utama koroner kiri atau ekuivalennya. Pasien juga memiliki penyakit pembuluh darah dengan penyumbatan berat pangkal LAD dan fungsi pompa jantung lebih kecil dari 50% atau iskemi dengan tes non invasif.

LAD dalam konteks jantung adalah singkatan dari left anterior descending artery, yaitu arteri koroner terbesar yang memfasilitasi suplai darah ke bagian depan dan kiri jantung

LAD berperan penting dalam pasokan oksigen dan nutrisi ke otot jantung. Bila terjadi penyimpangan aksis ke kiri maka dicurigai terdapat pembesaran jantung sebelah kiri

“Pasien mengalami yeri dada menetap meskipun sudah ditangani dengan terapi non invasif maksimal, atau upaya pemasangan balon gagal dengan nyeri persisten atau hemodinamik tidak stabil atau gangguan irama jantung yang mengancam nyawa juga bisa menjadi pertimbangan bypass jantung,” lanjut dr. Yanto.

Insiden ruptur bilik jantung pasca infark atau kebocoran katup mitral, usia muda, dan diabetes melitus juga menjadi pertimbangan dalam melakukan bypass jantung.

Dr. dr. Yanto Sandy Tjang, Sp.BTKV menjelaskan tatalaksana penanganan penyakit jantung koroner (dok. Berandasehat.id)

Operasi bypass jantung dapat meningkatkan harapan hidup pasien penyakit jantung koroner, meskipun tidak selalu menjadi solusi utama – karenanya perlu konsultasi dengan spesialis jantung untuk menentukan apakah tindakan ini dibutuhkan.

Efektivitas operasi bypass juga dipengaruhi oleh gaya hidup sehat dan perawatan jantung yang baik setelah operasi. Gaya hidup sehat, seperti pola makan sehat, olahraga teratur, dan menghindari rokok, juga sangat penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah yang telah dilakukan bypass dan memperpanjang masa efektif tindakan ini.

Gangguan kesehatan akibat burnout

Bidang pekerjaan dengan tingkat stres tinggi bisa menjadi biang penyebab masalah kesehatan. Tekanan deadline (tenggat) ketat, terpapar situasi krisis, hingga mengalami kelelahan fisik akibat jadwal kerja yang tidak menentu menjadikan profesi tertentu, misalnya bekerja sebagai jurnalis, rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan, baik yang bersifat kronis seperti penyakit jantung, stroke.

Profesi ini juga bisa memicu gangguan pencernaan, maupun gangguan psikologis seperti stres berat, burnout, hingga trauma.

Menurut Feka Angge Pramita, psikolog dari RSKB Columbia Asia Pulomas, profesi jurnalis sangat rawan terhadap kelelahan mental yang tidak terlihat. “Banyak pekerja media mengalami gejala burnout, gangguan tidur, atau kecemasan berlebihan, tetapi merasa tidak punya waktu atau ruang untuk memprosesnya,” tuturnya.

Untuk itu,perlu ada ekosistem pendukung yang memungkinkan jurnalis mendapat akses psikologis tanpa stigma.

Dari sisi kesehatan fisik, dr. Yanto Sandy Tjang, mengakui banyak jurnalis mengalami kondisi kronis seperti hipertensi, gangguan pencernaan, dan risiko sakit jantung, karena pola makan tidak teratur, tingkat stres tinggi dan kurang istirahat.

“Deteksi dini melalui medical check-up dan pemantauan kesehatan berkala bisa mencegah terjadinya komplikasi serius,” tandasnya.

Kesempatan sama, CEO RS Premier Jatinegara, dr. Yustinus Henry Yogatama, menyampaikan bukan sekadar perawatan, Asia OneHealthcare juga menegaskan komitmennya sebagai mitra media dalam penyediaan informasi medis yang kredibel dan akurat.

Diskusi media ‘One Wave – Media Sharing: Special for Press Workers’ yang dihelat Asia OneHealthcare di Jakarta (dok. Berandasehat.id)

“Kami ingin menjadi jembatan antara dunia medis dan dunia jurnalistik. Rumah sakit harus responsif, terbuka, dan mampu menyampaikan informasi yang bisa dipahami publik tanpa kehilangan akurasi sehingga menggeser paradigma tunggu sakit baru berobat bagi masyarakat Indonesia,” ujar dr. Yustinus.

Hal senada juga disampaikan CEO RSKB Columbia Asia Pulomas, drg. Gabrielly Zwitveysie Allow, MARS, terkait komitmen rumah sakit dalam memperkuat layanan unggulan dan inovasi teknologi.

Dia mengatakan rencana ekspansi fasilitas di Pulomas, termasuk penambahan kapasitas tempat tidur dan peningkatan layanan gawat darurat 24 jam, sebagai respons terhadap pertumbuhan permintaan layanan kesehatan di Jakarta Timur.

“Kami ingin menjadi rumah sakit pilihan utama dalam radius 5 kilometer, dengan standar internasional yang mengutamakan kenyamanan dan kecepatan respons,” tandas dr. Gabrielly. (BS)