Berandasehat.id – Panduan pengobatan baru telah dikembangkan untuk membantu dokter mengatasi uveitis, salah satu penyebab utama hilangnya penglihatan.
Panduan klinis baru yang dikembangkan oleh tim di Universitas Bristol, bertujuan untuk membantu ribuan penderita menjaga kondisi mata yang menyakitkan ini.
Uveitis lazimnya memengaruhi orang dewasa berusia antara 20 hingga 50 tahun, kondisi yang menyebabkan peradangan di dalam mata ini bertanggung jawab atas hingga 10% dari hilangnya penglihatan di seluruh dunia. Deteksi dan pengobatan dini sangat penting untuk pemulihan pasien.
Meskipun berdampak besar, penyakit radang ini sebagian besar tidak dikenali oleh masyarakat umum dan terkadang diabaikan dalam komunitas medis yang lebih luas.
Tinjauan komprehensif baru menyoroti penyebab, gejala, dan kemajuan terbaru dalam pengobatan kondisi tersebut, dengan seruan mendesak untuk diagnosis dan intervensi lebih dini.
Penelitian oleh dokter mata di Sekolah Kedokteran Bristol ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk kesadaran yang lebih baik tentang uveitis. Seruan untuk diagnosis dini dan perawatan yang lebih baik
Dr. Panayiotis Maghsoudlou, Dosen Klinis Akademik NIHR bidang Oftalmologi di Sekolah Kedokteran Bristol: Ilmu Kesehatan Translasional (THS), dan penulis utama studi tersebut, menekankan bahaya diagnosis yang terlambat.
“Uveitis sering kali terdeteksi terlambat, yang pada saat itu kerusakan ireversibel (tidak bisa pulih) mungkin sudah terjadi,” ujarnya.

Penting bagi orang yang mengalami nyeri mata terus-menerus, kemerahan, kepekaan terhadap cahaya, bintik baru, penglihatan kabur, atau perubahan penglihatan yang tiba-tiba untuk segera mencari perhatian medis.
Intervensi dini dapat meningkatkan hasil secara signifikan, dan dalam banyak kasus, mencegah kehilangan penglihatan permanen.
Mendiagnosis dan mengobati uveitis merupakan tantangan karena presentasi berbagai subtipe yang bervariasi, masing-masing dengan penyebab dan respons yang mendasarinya terhadap pengobatan yang berbeda.
Variabilitas ini mempersulit pengenalan dini dan pemilihan strategi pengobatan yang tepat, karena berbagai bentuk penyakit memerlukan pendekatan yang disesuaikan.
Untuk mengatasi hal ini, para peneliti mengembangkan panduan klinis baru untuk membantu dokter mendiagnosis dan mengobati uveitis dengan lebih efektif.
Tim tersebut melakukan tinjauan ekstensif terhadap 2.900 studi yang dipublikasikan tentang uveitis, untuk mengevaluasi diagnosis dan pengobatan yang paling efektif. Hasil studi telah dipublikasikan di JAMA.
Kemajuan baru dalam pengobatan uveitis
Secara historis, pengobatan untuk uveitis bergantung pada kortikosteroid, yang membantu mengendalikan peradangan tetapi membawa risiko efek samping jangka panjang seperti glaukoma dan katarak.
Namun, kemajuan terkini dalam pengobatan telah memperkenalkan opsi baru, termasuk terapi biologis seperti adalimumab, yang telah terbukti efektif untuk pasien dengan kasus yang parah atau berulang. Meskipun pengobatan ini menandai langkah maju yang signifikan, memastikan akses global tetap menjadi tantangan.
Studi ini menyoroti pentingnya pendekatan pengobatan yang disesuaikan, karena berbagai jenis uveitis memerlukan strategi manajemen yang berbeda.
Sementara uveitis non-infeksi sering kali melibatkan pengobatan imunosupresif untuk mengendalikan peradangan, kasus infeksi harus diobati dengan terapi antimikroba yang ditargetkan.
Perlunya pendekatan multidisiplin
Tinjauan tersebut menggarisbawahi pentingnya pendekatan multidisiplin untuk menangani uveitis, karena sering kali dikaitkan dengan penyakit sistemik yang mendasarinya.
Kolaborasi antara dokter mata, dokter reumatologi, dan spesialis penyakit menular sangat penting untuk memastikan pasien menerima perawatan yang komprehensif.
Studi tersebut juga menyerukan upaya kesehatan masyarakat yang lebih besar untuk mendidik masyarakat tentang uveitis.
Andrew Dick, Profesor Oftalmologi di Sekolah Kedokteran Bristol: THS, dan penulis senior studi tersebut, menambahkan meskipun menjadi penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah, uveitis masih kurang terdiagnosis dan kurang diobati.
“Studi kami telah mengidentifikasi pengobatan yang paling efektif tergantung pada jenis dan penyebab peradangan. Dengan menyesuaikan pendekatan pengobatan, kami dapat secara signifikan mengurangi kemungkinan kehilangan penglihatan, yang merupakan hasil potensial paling serius dari peradangan mata yang tidak diobati,” ujar Prof. Dick dikutip MedicalXpress. (BS)