Berandasehat.id – Pernah dengar istilah brain rot? Kerusakan otak menggambarkan penurunan mental yang mungkin dialami setelah menonton konten internet berkualitas rendah dalam jangka waktu yang lama. Menggulir tanpa henti dapat meningkatkan kadar dopamin, yang menyebabkan masalah memori, rentang perhatian yang lebih pendek, kesulitan fokus, stres, dan kecemasan.
Istilah brain rot mengacu pada bagaimana konten internet berkualitas rendah dapat memperlambat fungsi otak. Ini biasanya dikaitkan dengan menonton jenis konten tertentu, biasanya tidak masuk akal, memalukan, atau aneh. Namun, tidak jelas apakah video bernilai rendah dapat memberikan dampak negatif.
Popularitas istilah brain rot membuatnya terpilih sebagai ‘Kata Tahun Ini Oxford’ pada 2024.
Menurut Gary Small, MD, ketua psikiatri di Hackensack University Medical Center di Hackensack, New Jersey, dan penulis The Memory Bible, kerusakan otak bukanlah diagnosis medis yang sebenarnya. “Ini merujuk pada penurunan mental atau kognitif yang tampaknya terjadi ketika Anda mengonsumsi terlalu banyak konten daring yang tidak menantang atau remeh,” ujarnya.
Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam di sofa menonton video-video yang tidak bernilai. Alih-alih merasa segar, Anda malah merasa pusing dan lelah.
Bagaimana brain rot terjadi
Penelitian belum jelas bagamana tepatnya brain rot terjadi, tetapi beberapa ahli berpendapat bahwa dopamin terlibat. Dopamin adalah hormon ‘perasaan senang’. Menggulir media sosial dapat meningkatkan kadar dopamin otak, dan mungkin ini menimbulkan rasa senang pada awalnya.
Tetapi dampaknya otak bisa menjadi terlalu terstimulasi dan kelelahan. Bagi orang yang menggunakan ponsel setiap hari, situasi ini bisa memicu stres kronis.

Kerusakan otak dapat memengaruhi siapa saja, pada usia berapa pun. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Henry David Thoreau pada tahun 1854. Ia mendefinisikan ‘pembusukan otak’ untuk merujuk pada menyukai ide-ide yang lebih sederhana, alih-alih yang kompleks.
Teknologi modern memungkinkan meme dan video internet yang tak terhitung jumlahnya. Pembusukan otak sekarang menggambarkan tumpulnya fungsi otak. “Dari 5 miliar orang di media sosial, siapa pun bisa mengalami pembusukan otak,” kata Small.
Remaja perempuan adalah pengguna terbesar. Mereka menghabiskan hampir tiga jam sehari di linimasa media sosial. “Itu berarti waktu yang tersita untuk aktivitas lain yang lebih memperkaya kognitif,” kata Small. “[Mereka bisa saja] membaca, melakukan hobi, atau berkumpul dengan teman.”
Banyak aktivitas sehat yang dapat membangun fungsi otak. Peristiwa yang menantang dapat memaksa otak untuk aktif. “Tetapi ketika hanya menggulir media sosial, otak tidak dilatih. Otak menjadi pasif,” kata Small. “Itu tidak akan selalu merusak otak memang, tetapi juga tidak akan membantu memperkuatnya.”
Dampak brain rot
Individu bisa mengalami kerusakan otak apabila kerap menonton video YouTube secara maraton, menggulir media sosial, berselancar di internet sambil mengirim pesan teks dan memeriksa email, bermain gim video, hingga doomscroll (memeriksa umpan berita secara obsesif, meskipun hal itu mengganggu atau membuat kesal).
Waktu layar yang moderat kemungkinan besar tidak masalah. “Namun, jika terlalu banyak, Anda mungkin mulai menyadari dampaknya,” kata Small. “Karena menggulir terus-menerus meningkatkan kadar dopamin otak, hal itu sebenarnya bisa menjadi kecanduan perilaku, di mana Anda merasa perlu melakukannya terus-menerus.”
Berikut beberapa dampak lain pada otak karena kerap menggulir konten remeh di media sosial:
Rentang perhatian yang lebih pendek
“Jika otak terbiasa dengan konten singkat, akan lebih sulit baginya untuk fokus pada tugas yang lebih kompleks,” kata Daniel Schacter, PhD, seorang profesor psikologi di Universitas Harvard.
Akibatnya, kita mungkin merasa lebih sulit untuk menyelesaikan proyek kerja, membaca buku, atau bahkan bercakap-cakap.
Masalah memori
Jika menghabiskan sebagian besar waktu di media sosial, hal itu dapat mengganggu otak. Dan konten yang kurang bernilai dapat menghilangkan alasan untuk mengingat berbagai hal. Sebuah ulasan menemukan bahwa konten internet dapat memengaruhi ingatan. Akibatnya, kita mungkin cenderung tidak mengingat tugas-tugas tertentu seperti ulang tahun atau petunjuk arah.
Masalah dalam pemecahan masalah
Terlalu banyak waktu di depan layar dapat menipiskan korteks serebral, yakni bagian otak yang mengendalikan ingatan, keputusan, dan pemecahan masalah. “Dengan jaringan otak yang lebih sedikit, Anda mungkin kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari,” kata Small.
Kecemasan
Bagi orang yang suka melakukan aktivitas doomscroll, penelitian menunjukkan tingkat stres bisa meningkat, dan meningkatkan kecemasan. “Kita juga tahu bahwa jika mengalami stres kronis, itu juga memengaruhi ingatan,” kata Small. “Terlalu banyak menonton juga akan menstimulasi otak secara berlebihan.”
Nah, kendalikan diri terhadap konsumsi konten remeh di media sosial yang efeknya merusak otak. (BS)