Berandasehat.id – Sound horeg dalam beberapa pekan terakhir menjadi topik hangat di media sosial. Speaker dalam ukuran jumbo yang lazim dijumpai di wilayah Jawa Timur itu dituding dapat merusak pendengaran karena mengeluarkan suara keras.
Dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan menyebut, mendengarkan sound horeg ibarat speaker dengan kekuatan 130 dB ditaruh langsung dekat telinga. “Pendengaran kita tidak nyaman. Semakin keras suaranya ada risiko kehilangan pendengaran. Ini seperti mengangkat barang, kekuatan kita ada limitnya. Kalau barangnya terlalu berat, bisa putus ototnya. Di pendengaran juga begitu,” ujar dr. Ashadi Budi, spesialis telinga, hidung dan tenggorokan, bedah kepala dan leher RS Pondok Indah Bintaro Jaya dalam diskusi media di Jakarta, baru-baru ini.
Selain sound horeg, mendengarkan suara musik dalam volume maksimal juga bisa memicu gangguan pendengaran, terutama jika dilakukan terus menerus. “Semua orang sadar suara keras berbahaya bagi telinga. Tapi kalau suara musik, kadang bikin lupa karena enak didengar. Saat di tengah lingkungan bising, kita cenderung mendengarkan musik melalui earphone lebih keras. Pakai earphone dengan volume disetel di atas 50 persen itu berisiko bagi organ pendengaran,” Dokter Ashadi mengingatkan.
Lebih lanjut dr. Ashadi menjelaskan, paparan suara bising dalam waktu lama akan merusak sel-sel rambut (hair cell) di telinga dalam (koklea) yang bertugas mengubah gelombang suara menjadi sinyal saraf. Efeknya adalah penurunan kemampuan pendengaran sementara. Misalnya, sepulang nonton dari konser musik, kita akan merasakan pendengaran berkurang, meskipun sifatnya sementara. “Hair cell setelah konser itu berantakan. Makanya setelah nonton konser, telinga perlu diistirahatkan dari suara keras dan aktivitas berat dalam beberapa hari, nanti sel rambut akan baik lagi,” terangnya.

Terpapar suara keras terus menerus bisa menyebabkan kerusakan permanen pada telinga atau ketulian. Riset membuktikan bahwa paparan suara bising dengan kekuatan di atas 80 desibel secara lama, sekitar satu jam, dan berulang dapat menyebabkan gangguan pendengaran bahkan tuli.
Perlu dicatat, penurunan fungsi pendengaran bisa berjalan kronis (jangka panjang), jadi tidak seketika. Mendengarkan suara dalam volume keras dalam jangka lama berpotensi mengancam gangguan pendengaran ke depannya – bahkan di usia di atas 50-an bisa kehilangan pendengaran.
Dokter Ashadi mengingatkan ada risiko gangguan pendengaran pada profesi tertentu, misalnya karyawan yang bekerja di game center yang terpapar suara keras terus menerus. “Perkumpulan THT sudah lama concern dengan hal itu,” ujarnya.
Ada cara untuk meminimalkan gangguan pendengaran, yaitu dengan menggunakan earplug. “Earplug menjadi cara untuk meredam. Banyak penyanyi pakai earphone yang punya efek meredam suara keras, ada monitor di dalam telinga yang bisa diatur,” tandas dr. Ashadi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar tingkat kebisingan yang aman untuk telinga berada di bawah 85 dB untuk durasi tertentu. Paparan suara di atas 85 dB dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan pendengaran. (BS)