Berandasehat.id – Penyebaran penyakit chikungunya kian meresahkan. Pejabat kesehatan di Tiongkok melaporkan lebih dari 8.000 kasus chikungunya sejauh ini. Chikungunya disebabkan virus yang disebarkan oleh nyamuk dan dapat menyebabkan demam dan nyeri sendi.

Wabah berpusat di Foshan, sebuah kota di Provinsi Guangdong di tenggara Tiongkok dengan hampir 10 juta penduduk. Provinsi Hong Kong, Makau, dan Hunan – lebih dari 640 kilometer di utara – juga telah melaporkan kasus-kasus tersebut.

Menanggapi hal ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) telah mengeluarkan peringatan bagi para pelancong yang menuju Tiongkok dan negara-negara lain yang sedang mengalami wabah, termasuk Bolivia, Kenya, Madagaskar, Mauritius, Mayotte, Réunion, Somalia, dan Sri Lanka.

Chikungunya dapat menyebabkan nyeri yang serius, terutama pada persendian. “[Penyakit ini] dapat membuat orang cacat selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun,” ujar Dr. Peter Chin-Hong, pakar penyakit menular di University of California, San Francisco, kepada The Washington Post.

Virus chikungunya disebarkan oleh dua jenis nyamuk: Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Virus ini umum di banyak wilayah hangat, termasuk Asia, Afrika, dan Amerika, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Nyamuk terinfeksi ketika mereka menggigit seseorang yang sudah memiliki virus, menurut CDC. Nyamuk kemudian dapat menularkan virus kepada orang lain melalui gigitan baru.

Virus ini dapat ditularkan melalui transfusi darah atau kontak dengan darah yang terinfeksi. Namun demikian virus ini tidak menyebar melalui batuk, bersin, atau sentuhan.

Gejala infeksi chikungunya biasanya dimulai tiga hingga tujuh hari setelah seseorang digigit nyamuk yang terinfeksi, kata CDC. Gejala yang muncul termasuk demam, nyeri sendi, sakit kepala, juga ruam.

Meskipun chikungunya jarang mematikan, nyeri sendi dapat berlangsung lama. Orang dewasa yang lebih tua, bayi, dan orang-orang dengan kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau penyakit jantung lebih mungkin sakit parah.

Pada Juli silam, sekitar 240.000 kasus chikungunya telah dilaporkan di seluruh dunia tahun ini, dan 90 orang telah meninggal, menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Eropa.

Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan chikungunya, tetapi dua vaksin sekarang telah disetujui di AS. Vaksin pertama menerima persetujuan pada tahun 2023, menurut The Post.

Namun, Tiongkok tidak memiliki akses ke vaksin tersebut. Sebaliknya, pejabat kesehatan di sana menggunakan metode lain untuk memperlambat wabah, seperti menggunakan drone untuk menyemprotkan obat nyamuk dan melepaskan ikan ke kolam untuk memakan larva nyamuk.

Rumah sakit diharuskan melaporkan kasus baru dalam satu hari.

Untuk mencegah gigitan nyamuk, CDC merekomendasikan setiap orang mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang saat berada di luar ruangan, menggunakan obat nyamuk, dan tetap berada di dalam ruangan dengan AC atau jendela berjaring.

Lebih lanjut, vaksin direkomendasikan untuk orang yang bepergian ke daerah yang sedang mengalami wabah, terutama bagi orang yang tinggal untuk waktu yang lama.

Chin-Hong menambahkan bahwa vaksin merupakan langkah maju yang besar. “Yang penting adalah penerapannya di tempat-tempat yang paling membutuhkan,” ujarnya. (BS)