Berandasehat.id – Kadar trigliserida yang tinggi – jenis lemak paling umum dalam tubuh dan makanan yang kita konsumsi -secara langsung menyebabkan aneurisma aorta abdominal, menurut sebuah studi pada model tikus yang dipimpin oleh Michigan Medicine.
Para peneliti mengidentifikasi lipoprotein kaya trigliserida dan protein yang mengatur metabolisme trigliserida, termasuk APOC3 dan ANGPTL3, sebagai pemicu kausal aneurisma aorta abdominal.
Studi ini menantang keyakinan lama bahwa trigliserida hanyalah penanda biologis (biomarker) penyakit vaskular dan sebaliknya menunjukkan bahwa trigliserida memainkan peran langsung dan patogenik dalam perkembangan, pertumbuhan, dan ruptur aneurisma.
“Kita telah mengetahui bahwa hiperlipidemia merupakan faktor risiko aneurisma aorta, tetapi studi multidimensi ini menunjukkan hipertrigliseridemia sebagai kontributor penting bagi perkembangan dan pertumbuhan, serta diseksi dan ruptur, aneurisma aorta,” kata rekan penulis senior Eugene Chen, M.D., Ph.D., Profesor Kedokteran Kardiovaskular Frederick G. L. Huetwell di Fakultas Kedokteran Universitas Michigan dikutip MedicalXpress.
“Temuan kami menunjukkan bahwa pengelolaan trigliserida dapat menjadi strategi terapi yang ampuh,” lanjutnya.
Dengan menggunakan tiga model tikus hipertrigliseridemia yang berbeda, tim peneliti menunjukkan efek yang bergantung pada dosis trigliserida terhadap tingkat keparahan aneurisma.
Peningkatan trigliserida yang moderat mempercepat pembentukan aneurisma, sementara kadar yang lebih tinggi menyebabkan diseksi aorta.

Tikus dengan konsentrasi trigliserida yang sangat tinggi mengalami komplikasi yang lebih parah yang konsisten dengan ruptur aorta. Investigasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa peningkatan trigliserida dan asam lemak terkait, terutama palmitat, mengganggu pematangan dan aktivitas lisil oksidase, enzim penting yang menjaga integritas struktural dinding aorta.
Disfungsi enzim ini melemahkan jaringan ikat dan mendorong perkembangan aneurisma. Dengan mengekspresikan LOX secara berlebihan di aorta, para peneliti secara efektif memblokir efek merusak hipertrigliseridemia pada model tikus, yang mengonfirmasi mekanisme tersebut.
Terapi penurun lipid standar, seperti niasin, tidak cukup menurunkan kadar trigliserida ke kisaran protektif.
Namun, para peneliti menemukan keberhasilan dengan terapi oligonukleotida antisense eksperimental. Kandidat obat menargetkan ANGPTL3, yang disekresikan di hati dan memengaruhi cara tubuh memecah lemak.
Perawatan tersebut secara dramatis menurunkan kadar trigliserida hingga 50% dan mencegah pembentukan dan diseksi aneurisma pada beberapa model tikus.
“Terapi ini memiliki potensi besar sebagai pengobatan aneurisma aorta abdominal, dan penelitian kami menjadi dasar bagi uji klinis di masa mendatang,” ujar rekan penulis senior Yanhong Guo, M.D., Ph.D., asisten profesor riset penyakit dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Michigan.
Guo menyebut, ini merupakan perkembangan yang menggembirakan untuk kondisi yang saat ini memiliki pilihan terbatas selain operasi. “Temuan ini dapat merepresentasikan pergeseran paradigma dalam cara penyakit vaskular seperti aneurisma aorta abdominal dipahami dan diobati, menawarkan harapan bagi pasien berisiko tinggi yang saat ini kekurangan intervensi farmakologis yang efektif,” tandasnya.
Hasil studi telah dipublikasikan di Circulation. (BS)